Sejarah Filsafat Kuno (Bag 1)

Foto SayaSulit sebenarnya menemukan awal-mula manusia itu berfikir kefilsafatan, sebab secara agak umum kita bisa mengatakan bahwa filsafat adalah usaha manusia untuk berfikir, untuk mengetahuo, mencari tahu, karena itu memang fitrah dari manusia, dan pencarian tahu itu menggunakan methode berfikir, nalar yang rasional, lalu diurutkan sehingga menjadi terintegrasi dalam sistem yang mengandung makna. Pencarian makna itu juga sebuah fitrah manusia, dimana kita definisikan makna disini adalah terintergrasinya satu penjelasan atau informasi dengan informasi yang lain, sehingga terjelaskan. Dengan uraian seperti ini maka kita akan mengetahui bahwa sejak awal sebenarnya manusia sudah berfikir kefilsafatan. Tambahan dalam beberapa definisi tentang filsafat dengan ungkapan berfikir secara radix atau mendasar sebenarnya ini problematis dikarenakan kemendasaran itu tergantung manusia-manusia yang melakukan pemikiran itu. Banyak teori filosof yang satu disanggah dan sederhana dibandingkan dengan filosof-filosof lainnya. Lalu kapan sejarah filsafat dimuali? Jawabannya sebenarnya sejak manusia itu turun kebumi dan mereka mengembangkan pikiran atau nalarnya. Lalu bagaimana dengan filsafat Yunani?

Sebelum Yunani akar-akar kefilsafatan sudah ada dan dimulai di Mesir, Mesophotamia dan lain sebagainya tetapi di Yunanilah sejarah filsafat itu menancap dan menghasilkan buku-buku tertulis dimana warisan dan sejarahnya sampai ke kita secara lebih detail. Persia, India, Cina juga daerah sekitar Yaman dan Suria serta Mesir, babilonia adalah tempat-tempat peradaban selain Romawi dan Bizantium. Sokrates, Plato dan Aristoteles adalah nama-nama yang kita kenal dibandingkan lainnya, walaupun lainnya juga memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam beberapa hal tentang pemikiran kefilsafatan seperti Phitagoras dan lainnya. Mungkin kita perlu mengetahui beberapa sejarah dan nama-nama serta pemikiran para filosof Yunani sebelum Sokrates sampai bagaimana sejarah kefilsafatan itu masuk kedunia Islam.

Yunani berjaya setelah perang dengan Persia (490 SM). Awalnya adalah Ionia dan Magna Gracia (Kota-kota di Italia selatan dan Sisilia). Herodotus, bapak ilmu sejarah adalah warga pribumi Helicarnassus di Asia kecil, yang bermukim di Arhena, diminta oleh negara untuk menulis sejarah perang Persia dari sudut pandang orang Athena. Dalam Filsafat Athena menyumbangkan nama besar yaitu Sokrates dan Plato.

Dalam sejarah awal kefilsafatan, mereka lebih mengarah melihat alam semesta yang memberikan harmoni dan ketakjuban. Mereka bertanya bagaimana awal alam ini terjadi dan apa-apa yang menyusun mereka, serta bagaimana hakikat segala sesuatu itu. Pemikir-pemikir Yunani mencoba untuk memberikan jawaban-jawabannya.

THALES (624 – 548 SM) mengakan bahwa alam mulai segala sesuatu itu adalah Air, karena dia melihat bagaimana sungai Nil (Mesir), dan hal-hal yang berhubungan dengan air memberikan penghidupan dan sangat berpengaruh terhadap manusia. Mungkin benar kata Bertrand Russel bahwa ada hubungan timbal-balik: Lingkungan kehidupan manusia banyak menentukan jenis kefilsafatan yang dipikirkan, tatapi sebaliknya, kefilsafat dan paradigma berfikir mereka juga menentukan lingkungan kehidupannya.[1] Anaximenes (590 – 528SM). Karena dia melihat bahwa udara adalah ada dimana-mana dan manusia sangat membutuhkannya, bahkan akan segera mati kalau tidak ada udara, Anaximenes mengatakan bahwa unsur utama alam pada dasarnya adalah udara.

PHITAGORAS (532 SM), Phitagoras adalah penggagas awal Matematika, dan dia menghubungkan Matematika itu dengan simbul-simbul alam dan mistisisme yang banyak berpengaruh nantinya dalam mistisisme-Islam utamanya Islailiya dan kelompok Suhrawardian (Isyraqiyyah). Dikatakan bahwa Phitagoras dari Samor dan kemudian belajar dimesir sebelum kembali lagi ke Croton (Italia Selatan). Phitagoras membentuk ordo keagamaam semacam sufi (klenik) yang akhirnya tidak disukai oleh masyarakat, tetapi Phitagoras juga memiliki kumpulan kelompok ahli Matematika. Russell mengatakan bahwa kebenaran ini sulit dijabarkan[2], tetapi ini ada kemiripan bila kita melihat penjelasan secara detail konsep Ismailiah, dan Ikhwan-Al Shafa dalam Islam tentang ajaran Phitagorean-Hermetis yang masuk menjadi Teosofi dalam sejarah intelektual Islam[3]. Dia adalah pemula ajaran mistisisme dan sebagaian ajarannya mengatakan bahwa jiwa tidak akan mati, dan mengatakan bahwa apapun yang bereksistensi dilahirkan kembali menurut perputaran siklus tertentu, sehingga tidak ada sesuatu yang benar-benar baru, sesuatu yang ada itu berasal dari satu sumber.[4] Phitagoras banyak menggunakan pemaknaan serta penafsiran bertingkat dan simbol-simbol. Ia menganggap para filosof-sufi adalah setengah dewa (bukan manusia tetapi bukan dewa). Kontemplasi simpatik yang penuh gairah itu bersifat intelektual dan diwujudkan dalam pengetahuan Matematis. Terkesan bahwa filosof empiris adalah budak materi, sementara seorang mamatis murni, seperti halnya para musisi, adalah kreator bebas atas dunia keindahannya sendiri yang penuh tatanan. Phitagoras tidak memisahkan antara kenabian (jiwa) dan matematika, dimana dalam dunia modern itu dianggap sesuatu yang aneh.

Karena Matematika dimulai dengan kontemplasi maka mulai muncullah bahwa empiris yang berubah-ubah lebih rendah dari yang tetap, induksi kalah dengan deduksi, pemikiran murni dibandingkan dengan observasi. Matematika yang pasti dijadikan rujukan dari ilmu-ilmu yang non-pasti (empiris dan kemasyarakatan). Pithagoras mengatakan “segala sesuatu itu adalah Bilangan”, ini akan sulit dimaknai bila tidak ditafsirkan atau ditakwilkan tentang simbol-simbol. Bahwa sesuatu itu adalah kumpulan dari lainnya, dari satu ke dua dan seterusnya, jarak juga adalah bagian-bagian dan pentumlahan. Segaa sesuatu itu ada dimensinya, dimensi satu (titik), lalu garis dan dua dimensi serta lingkaran dan diteruskan dengan dimensi tiga (volume). Semuanya itu adalah penjumlahan, perbandingan, ukuran dan dimulai dari satu, satu. Semuanya adalah bilangan, bilangan. Bilangan segitiga, bilangan segi empat, sehingga ada sisi-sisi, sama-kaki dan seterusnya, yang kesemuanya itu akan ada padananya dalam realitas empris kehidupan. Buku, rumah, batu, kerikil, gunung dan seterusnya. Sangat mungkin Phitagoras menganggap dunia ini bersifat atomis tersusun dari molekul-molekul, yang tersususn dari atom dengan berbagai bentuk.

Pengaruh Geometri terhadap filsafat dan methode ilmiah cukup mendalam. Geometri yang diciptakan oleh Yunani berangkat dari aksioma-aksioma yang dianggap sebagai jelas dengan sendirinya, dan melalui penalaran deduksi, terus melangkah sampai ketheorema-theorema yang jauh dari sifat-sifat jelas-dengan sendirinya (self evident). Aksioma dan teorema dianggap bisa berlaku dalam ruang nyata, yakni sesuatu yang ada dalam pengalaman. Dan kepastian-kepastian itu menjadi prototipe ideal dibandingkan dunia nyata. Sehingga dunia dan alam serta Tuhan dianggap ahli geometris yang memberikan hal-hal sesuatu dengan ukuran-ukuran dan standart-standart. Dalam Islam ada istilah ‘Qadar’, yang arinya juga pola, ukuran dan perbandingan-perbandingan.

HERAKLITUS (535 – 475 SM). Ia mengatakan bahwa segala sesuatu dialam ini selalu berubah, tidak ada yang tetap. Unsur utamanya adalah Api. Semuanya tidak tetap tetapi menjadi, karena sifat api yang selalu bergerak dan berubah. Unsur segala-galanya dan yang terdalam adalah gerak dan perubahan itu sendiri. Karena semuanya itu selalu bergerak dan menjdi, maka Filsafat Heraklitus disebut “Filsafat Menjadi”. Sesuatu yang dikatakan “Ada” adalah bukan realitas, realitas sebenarya adalah sesuatu yang menjadi. Pengetahuan yang tetap dan pengetahuan umum adalah bukan pengetahuan yang sebenarnya, pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang menjadi, berubah-ubah. Karena pada dasarnya tidak ada pengetahuan yang tetap, semuanya adalah menjadi.

PERMANIDES (540 – 475 SM). Menurutnya ada pengetahuan yang tetap dan ada pengetahuan yang menjadi? Pengetahuan Indra (yang berubah-ubah) dan pengetahuan akal-budi (yang tetap). Tetapi yang baik dan dapat dipercayai adalah pengetahuan yang tetap. Karena ada realitas yang bergerak, menjadi maka pengetahuan itu tidk bisa dijadikan acuan, bisa salah. Realitas itu bukan yang selalu bergerak dan menjadi, tetapi realitas itu Ada dan tetap.

Dibuktikan dengan Permanides dengan membagi antara ada dan tiada. Tidak ada itu bukan realias, karena memang tidak ada, tidak dikenal dan diketahui, hanya Ada-lah yang dapat dipahami dan diketahui. Bagi Pemanides, Berfikir dan Ada itu sama, mirip dengan ucapan Descaerte, “saya berfikir maka saya ada”. Karena ada itu tetap, tak mungkin berpindah, hanya ada satu saja Ada, ada tidak mungkin terbagi-bagi. Kalau Ada itu satu, maka dialah tidak mungkin berawal, sebab darimanakah awal dia? Filsafat Parmanides disebut “Filsafat ada”. Permanides mengutamakan pengetahuan budi, bukan pengetahuan Indra yang selalu bergerak dan menjadi serta berubah-ubah. Pertentangan Filsafat keduanya antara Permanides dan Heraklitos, Ada dan Menjadi, sampai sekarang tetap ada dan dicoba diselesaikan oleh Sokrates nantinya.

 Permanides dianggap penemu logika, walaupn ada yang mengatakan, is menggembangkan Matematika dengan Logika, Permanides juga memiliki konsep Metafisika yang dipakai sampai abad modern termasuk Hegel. Doktrine Permanides dituangkan dalam syair On Nature, dimana dia mengatakan bahwa satu satunya pengada adalah “Yang Tungga” dan tidak dapat dibagi-bagi serta unsur-unsurnya tidak berlawanan. Mirip dengan definisi Tuhan bagi para filosof paripatetik masa-masa selanjutnya dan didunia Islam. Gepa itu kata Permanides adalah ketiadaan terang, bodoh itu adalah tiadanya Ilmu dan lain sebagainya.

Permanides berkata, Ketika engkau berfikir, engkau berfikir tentang sesuatu, jika engkau menyebut suatu nama, pastilah itu nama dari sesuatu. Dengan demikian, baik pikiran maupun bahasa memerlukan objek diluar dirinya sendiri. Dan engkau dapat memikirkan sesuatu atau mengatakan sesuatu disatu saat maupun saat lain, maka apapun yang dapat dipikirkan atau dikatakan ada sepanjang waktu. Karena itu tak mungkin ada perubahan, sebab perubahan hanya pada sesuatu yang menjadi ada atau berhenti mengada.[5]

EMPEDOKLES. Ia mengemukakan bahwa tanah, api, air dan udara adalah unsur utama alam ini. Empedokles juga punya konsep semacam teori evolusi Darwin dimana makhluk yang paling unggullah yang bisa bertahan (the survival of the fittest). Ia juga punya konsep-konsep astronomi tentang gerhana matahari, dimana itu terjadi karena terhalangnya sinar oleh posisi bulan. Ia juga memiliki pandangan bahwa bulan itu bersinar karena memantulkan cahaya dan lain sebagainya. Empat unsur itu dengan perpaduan tertentu dan dengan takaran yang berbeda-beda akan menghasilkan pelbagai ragam zat dan terus berubah sebagaimana ditemukan didunia ini. Unsur-unsur itu dipadukan dengan Cinta dan Perselisihan. Kadang cinta yang lebih dominan dan kadang perselisihan yang lebih menguasai. Kejayaan terjadi karena unsur cinta yang lebih dominan. Plato menceritakan konsep-konsep Emphedokles juga Heraklitos dalam buku-bukunya. Konsep Dunia dianggap sebagai gua, didalamnya kita hanya melihat bayang-bayang kenyataan yang ada didunia luar gua, sumbernya sudah ada pada Empedokles.

ANAXAGORAS (499 – 428). Dia dipenjara karena persaingan dengan keompok agamawan dan dituduh bid’ah, mirip dengan Sokrates. Anaxagoras berpendapat bahwa segala sesuatu dapat dibagi-bagi secara tak terbatas. [Ini menarik sebab apapun sekecil apapun pasti memiliki sisi kanan-kiri, setiap yang memiliki sisi kanan-kiri maka secara akal/logika bisa dibagi, apakah ada alah yang mampu membaginya itu persoalan lain. Ini aneh sebab seakan sesuatu yang terbatas dihasilkan oleh sesuatu gabungan yang tak terbatas?]. Pelbagai benda tampail sebagaimana adanya sesuai dengan unsur apa yang paling banyak dikandungnya. Anaxagoras tidak setuju dengan adanya ruang hampa, selembung-gelembung membuktikan bahwa ada udara dimana-mana. Anaxagoras sudah membahas ruh walaupun penjelasannya ditentang dan dianggap kurang detail oleh Sokrates dan Plato. Anaxagoras wlaupun bukan pemikir utama, tetapi dialah yang memasukkan dan memperkenalkan filsafat di Athena dan dia memberipengaruh kepada Sokrates.

DEMOKRITUS (460 – 370SM). Demokritus melahirkan gagasan atomisme sebanarnya dalam upaya untuk menjembatani antara monisme dan pluralisme, yang masing-masing diwakili oleh Parmenides dan Empedokles. Pendapatnya sesuai dan mirip dengan pengetahuan modern walaupun hanya dihasilkan dengan spekulasi semata. Mereka berpendapat bahwa segala sesuatu tersusun dari atom-atom yang tak dapat dibagi-bagi secara fisik, namun bukan secara geometri. Diantara atom-atom itu terdapat ruang kosong, atom-atom itu tidak dapat dimusnahkan, atom-atom itu telah dan senantiasa bergerak, jumlah atom-atom itu tak terbatas, dan demikian jenisnya, yang berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Aristoteles mengungkapkan bahwa menurut kelompok Atomis, atom-atom itu berbeda dalam hal panasnya. Atom-atom bulat yang menyusun Api adalah yang terpanas. Sebagian mereka (para Atomis, tidak harus Demokritus) berpendapat bahwa atom-atom itu senantiasa bergerak jatuh, atom yang lebih berat yang lebih cepat jatuh. Ada yang mengatakan bergerak dengan acak dan terjadi tumbukan-tumbukan. Karena tumbukan-tumbukan itu atom-atom membentuk pusaran-pusaran. Para atomis sering dianggap kelompok yang menganggap sesuatu sebagai kebetulan, walaupun sebenarnya mereka percaya bahwa sesuatu itu berjalan sesuai dengan hukum alam.

Demokritus memang berdiam diri tentang awal mula gerakan-gerakan itu, bagaimana atom sehingga diasumsikan tiba-tiba selalu bergerak? Aristoteles dan lainnya memberikan penjelasan “penyebab pertama”. Russell mengatakan, hubungan sebab akibat harus berawal dari sesuatu, dan dimanapun hubungan itu berawal, tak ada penyebab yang bisa dipastikan sebagai sumber pertamanya.[6] Dunia ini bisa dikembalikan sebabnya kepada sang Pencipta, namun kemudian sang Pencipta itu sendiri tak bisa diasalkan kemana-mana.

Jika kita bertanya “Mengapa”? Sehubungan dengan suatu peristiwa, yang dimaksudkan tentunya adalah salah satu dari dua hal. Pertama, bisa jadi yang kita maksudkan” “Tujuan apa yang hendak dicapai oleh suatu peristiwa ini?” atau mungkin juga, ”keadaan seperti apa yang semula menyebabkan peristiwa ini”. Jawaban untuk pertanyaan yang pertama berupa penjelasan teleologis, atau penjelasan berdasarkan sebab akhir; jawaban atas pertanyaan kedua berupa penjelasan mekanistik.[7]Bertrand Russell berkata, baik penjelasan Teleologis, bahwa semua peristiwa itu bertujuan dan tujuan akhir adalah Pencipta. Namun bagaimana kalau manusia itu terus bertanya, Apa tujuan yang hendak dicapai oleh sang pencipta? Jelas pertanyaan ini dianggap melanggar Iman.

[Saya penulis MA mesti memberikan penjelasan disini: Ada dua konsep yang harus difahami oleh penanya bila mereka mempertanyakan hal-hal yang sampai keakar-akarnya yaitu tujuan penciptaan, Tuhan dan seterusnya.  Apa itu Tuhan? Definisi Tuhan adalah “Sesuatu” yang Tidak butuh pada Yang lain. Sesuatu disini bisa diberi makna dzat, atau apalah terserah. Karena Tuhan itu Tidak Butuh pada Yang lain, maka apapun itu dia tidak butuhkan termasuk ruang, waktu. Pertanyaan kapan Tuhan ada, itu absurd, tidak bisa ditanyakan, karena dia adalah awal dari semuanya. Dia tidak butuh pada lainnya. Dia juga tidak butuh sebab keberadaannya dan seterusnya.

Suatu keberadaan sampai tak terhingga kebelakang itu absurd. Sekadar contoh: Ada benang A yang pangjangnya tak terhingga. Dan benang B yang panjangnya tak terhingga. Lalu Benang A dipotong 1 meter dan benang B tidak dipotong. Pertanyaannya? Sekarang benang A dan benang B mana yang lebih panjang? Ada beberapa jawaban: 1) Benang B lebih panjang, sebab benang A dipotong 1 meter, sementara benang B tidak dipotong. Jawaban ini seakan masuk akal, tetapi sebenarnya kita sudah membayangkan ada pergeserang dari ujung-ujung benang A, setelah dipotong. Ini sebenarnya mengasumsikan ada ujung dari kedua benang itu, padahal awalnya disepakati keduanya tak terhingga panjangnya. 2) Benang A dan benang B sama panjang. Ini juga tidak masuk akal sebab, sesuatu yang awalnya sama (A dan B), kemudian salah satunya dikurangi tetapi hasilnya tetap sama? Ini melawan hukum akal secara umum.

Dari penjelasan itu maka kita bisa memahami bahwa sesuatu yang tak terhingga secara terus menerus itu tidak akan mungkin atau mustahil.

Penjelasan yang lain bisa dibuat disini adalah, misalkan ada sekelompok mahasiswa dalam satu kelas, lalu kita mengatakan kepada mereka bahwa kalian boleh keluar dari kelas ini dengan syarat bahwa kalian harus didahului oleh yang lainnya. Pertanyaannya, mungkinkah ada mahasiswa yang keluar dari ruang perkuliahan itu? Disini kita tahu bahwa karena alam ini sudah dihuni oleh sesuatu, anggap itu manusia atau apalah itu, maka keberadaan sesuatu itu didahului oleh yang lainnya, sebuah akibat perlu ada sebab dan seterusnya, tetapi kita akan wajib secara akal untuk berhenti dan mengatakan bahwa ada keberadaan yang tidak didahului oleh lainnya. Mengapa? Kalau kita berkeras bahwa sesuatu itu mesti terus didahului yang lain, maka tidak akan ada keberadaan sesuatu dialam ini.

Disini terbukti paling tidak jadi penjelasan bahwa ada sesuatu akhir yang keberadaannya tidak dihahului oleh lainnya dan itulah Tuhan atau Pencipta.

[1] Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat”, hal XV. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
[2] Russel, hal 41.
[3] Sayyed Hosein Nasr, 1968, Science and Civilization in Islam. Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts.    Juga Disertasinya, Introduction to Cosmology Doctrine in Islam, Harvard University Press. Teology, Philosophy and Spirituality. World Spirituality Vol.20. Crosssroad Publishing Company, 1991.
[4] Russell, hal 43.
[5] Russell, hal 66-67.
[6] Russell, hal 91.
[7] Ibid, 92.

 

Muhammad Alwi
Psikolog dan Konsultan Pendidikan. Peminat Studi Agama, Psikologi-Filsafat dan Pendidikan. 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s