Sejarah Filsafat Kuno (Bag 2)

Foto SayaPertanyaan tentang Teleologis: Apa tujuan Pencipa menciptakan alam dan segala isinya semua ini? Untuk menjawab pertanyaan ini kita mesti kembali kepada definisi awal dari Tuhan. Apa itu Tuhan? Tuhan adalah sesuatu yang tidak butuh pada yang lainnya. Maka kita tahu bahwa Tuhan tidak butuh terhadap penciptaannya. Lalu Apa tujuan Tuhan itu? Penciptaan secara definisi adalah menjadikan sesuatu yang awalnya tiada menjadi ada. Penciptaan ada 4.

  • Sesuatu menciptakan sesuatu yang lain tanpa tujuan. Kita saat dalam perkuliaah, dan dosennya mengajar kurang mengenakkan, kita bosa, maka seringkali kita mencorat-coret meja kita, dengan keisingan-keisengan kita. Corat-coret kita dimeja itu “penciptaan”, karena membuat sesuatu keberadaan (ada coretan-coretan dimeja) yang sebelumnya tidak ada coretan. Tetapi penciptaan ini (membuat adanya coretan-coretan di meja), tidak ada tujuannya, hanya sebuah keisengan mengisi kebosanan kita saat dosen pengajar membosankan.
  • Sesuatu menciptakan sesuatu yang lain, tujuannya kembali pada penciptanya. Contoh disini adalah bagaimana manusia menciptakan tekhnologi, robot, mesin dan tekhnologi lainnya. Penciptaan itu, yang awalnya tiada menjadi ada, jelas bukan untuk robot-robot itu, bukan untuk mesin-mesin itu tetapi tujuannya adalah untuk penciptanya, untuk manusia, mempermudah pekerjaannya, untuk memperingan pengangkutan, membuat efisien suatu pekerjaan dan lain sebagainya. Intinya tujuannya adalah kembali pada penciptanya.
  • Sesuatu menciptakan sesuatu yang lain, tujuannya untuk ciptaannya dan untuk dirinya sendiri. Keduanya mendapatkan manfaat terhadap hasil dari penciptaan itu. Sekadar contoh; Bagaimana manusia mendidik anak-anak-nya, menjadikan mereka disiplin, menjadikan mereka bertanggungjawab, mengerti membaca, menulis dan berhitung dan lain sebagainya. Apa tujuan penciptaan itu? Penciptaan adalah membuat sesuatu yang awalnya tiada menjadi ada. Mengajar itu menciptakan ilmu, yang awalnya tiada ilmu menjadi ada. Yang awalnya tidak memiliki pengertian menjadi mengerti dan seterusnya. Siapa yang diuntungkan dengan penciptaan-penciptaan itu? Jawabnya adalah yang diajar yaitu siswa-siswa, anak dan masyarakat umum. Dan disamping tujuannya kepada objek penciptaan, juga kepada subjek penciptaan (gurunya, orang tuanya, para penganjur, agamawan dan lainnya). Anak-anak, siswa, masyarakat menjadi lebih baik, dan kebaikan anak-anak itu kembali kepada orang tuanya. Mereka para orang tua makin sedikit pekerjaannya, makin tidak repot bahkan banyak akan terbantu oleh anak-anaknya kelak. Intinya penciptaan disini tujuannya kembali pada subjek (yang menciptakan: guru, orang tua, agamawan dan lainnya), juga kepada objek yang diajar (Anak-anak kita, siswa kita juga msyarakat kita).
  • Sesuatu yang menciptakan sesuatu yang lain, tujuannya kembali kepada Objek Ciptaannya. Inilah penciptaan Tuhan. Sebab secara definisi sejak awal tadi, dia adalah sesuatu yang tidak butuh pada yang lainnya. Tujuan Tuhan menciptakan yang lain adalah untuk Ciptaannya, bukan kembali pada penciptanya yaitu Tuhan.

Kalau ditanya mengapa Tuhan menciptakan Alam semua ini? Tuhan boleh melakukan apapun dengan “syarat” tidak melanggan Diri-nya, sifat-sifat-nya. Mengapa Tuhan menciptakan bumi ini Bulat? Jawabnya “Terserah Tuhan”, karena Tuhan punya sifat “Berkehendak” tetapi kehendaknya tidak boleh melawan dirinya. Misalnya membuat sesuatu yang sangat tidak efisien, tidak Adil dan seterusnya. Diskusi ini akan dilanjutkan nanti, insya Allah saat membahas Teologi Asyariyyah].

Menarik membahas tentang Gerak dalam teori Atom. Gerak itu diandaikan pasti melewati kekosongan, sebab bila sesuatu itu padat, maka tidak bisa ada gerak. Berarti kekosongan itu ada. Permenides berkata seperti ini, ”Anda katakan ada kekosongan, dengan begitu kekosongan bukanlah ketidak-adaan, maka kekosongan itu bukanlah kekosongan.” Kelompok atomis mengatakan bahwa pasti ada kekosongan, tetapi bagaimana membahas kekosongan itu? Ini agak rumit mereka jelaskan. Seakan mereka percara spiritualitas disini Berbicara logis-empiris; Bila sesuatu itu bisa dibelah maka sebenarnya ada ruang diantara mereka, tetapi sampai pada saat tertentu, ruang itu sudah tidak ada, padat total, bagian terkecil dan itu tidak bisa dibagi lagi. Kalau kita ingin membelah Apel maka sebenarnya kita hatus menemukan ruang kosong sehingga bisa menembuas Apel itu. Jika apael tidak mengandung kekosongan, maka buah itu tentu tak terbayangkan kerasnya dan dengan begitu secara fisik tad dapat dibagi-bagi Walaupun secara “logis-tanpa empiris” sesuatu itu bisa dibagi-bagi sampai tak terhingga.

Untuk memperjelas masalah ini maka harus dibedakan antara Meteri dan Ruang. Ruang bukanlah ketiadaan, namun adalah sifat suatu wadah, yang mungkin memiliki atau tak memiliki bagian tertentu yang terisi oleh materi. Para fisikawan modern masih percaya bahwa materi dalam pengertian tertentu bersifat atomis, tidak percaya akan adanya ruang kosong. Kalaupun tak ada materi, masih ada sesuatu, yakni gelombang-gelombang. Materi bukanlah substansi yang tak berubah, namun sekadar suatu cara berkumpulnya peristiwa-peristiwa. Russell yang mungkin karena kemiripan akan dirinya mengatakan Demokritus adalah filsuf Yunani yang terbebas dari kekeliruan tertentu yang merusak seluruh pemikiran Yunani. Sementara setelahnya, yaitu kaum Sofis, Sokrates yang mengutamakan Etika, Plato yang menokah dunia indrawi demi memuliakan dunia pemikiran murni ciptaan manusia sendiri, serta Aristoteles yang menekankan keyakinan kepada tujuan sebagai konsep fundamental dalam ilmu pengetahuan. Walaupun mereka itu para jenisu kara Russell[1], mereka memilki cacat yang berbahaya, dan setelahnya dunia mengalami kemerosotan, berkembangnya kembali takhayul ditengah masyarakat.

PROTAGORAS. Ini adalah tokoh Sofis terkenal zaman Sokrates. Sofis awalnya adalah sebutan kaum terpelajar, profesor mungkin saat ini. Ia mengajar anak-anak muda seni berdebat dan pemikiran-pemikiran lainnya, dimana pengetahuan itu secara publik (umum) tidak jelas jaminan kehidupannya. Makanya kaum Sofis mengajari mereka-mereka yang siap membayar dan anak-anak orang kaya. Disinilah pengkelasan sangat terlihat dalam perilaku kaum sofis. Disamping itu mereka memberikan pembekalan-pembekalan seni berdebat untuk mengalahkan lawan dengan membalikkan argumentasi dan lain sebagainya. Ajaran-ajaran mereka mirip dengan ‘pengacara’ saat ini dimana pertimbangan ‘moral’ ditiadakan dan membela siapa yang siap membayar. Semuanya mereka bantah dan ragukan dan bisa berubah-ubah yang terpenting adalah mengalahkan klaim-klaim lawan. Disinilah kelompok sofis mendapat kecaman dan akhirnya dianggap kelompok yang meragukan apapun tanpa pijakan-pijakan yang jelas dan pasti. Menurut merek “tidak ada kebenaran apapun”, kalaupun ada maka kita tidak bisa mengungkapkannya, manusia adalah ukuran segala-galanya. Tidak ada kebenaran objektif menurut pandangan mereka, mereka menganut skeptisme. Grigorias, kelompok dari mereka mengatakan; “Tak satupun kenyataan ini yang ada, dan kalaupun ada, ia tak dapat diketahui, dan bahkan seandainya ia ada dan bisa diketahui, orang itu tidak akan dapat mengungkapkannya kepada orang lain”. Menarik pernyataan-pernyataan Russell, seakan dia mencoba untuk memaklumi bahkan membela kaum sofis, misalnya; kaum sofis meminta bayaran bahkan kepada siapapun yang siap belajar dan membayar, karena filosof kelompok ini, Grigorias bukan orang mampu, lain dengan Plato. Demikian juga saat sofis mengabaikan moralitas, mereka hanya berdebat dan mengalahkan lawan tanpa pertimbangan moralitas, kata Russell, dalam banyak hal penyelidikan ilmiah mengharuskan menghilangkan pertimbangan moral itu. Bahkan Russell mengkritik Plato yang dianggap tidak jujur. “Penyelelidikan mereka (Plato dan seterusnya setelah Plato) akan etika berlangsung berdasarkan asumsi-asumsi yang sebetulnya sudah mereka ketahui bagaimana kesimpulannya.”[2]

SOKRATES (469 – 399 SM). Tidak banyak yang tahu tentang Sokrates kecuali dari murid-muridnya dan orang lain. Intinya dia berpolemik dengan para sofis dan kalangan pemerintahan, akhirnya dia dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun. Sebenarnya dia bisa meloloskan diri dari hukuman mati itu baik dengan meminta keringanan ataupun melarikan diri dari penjara. Tetapi dengan argumentasi dan keyakinan yang dia pegang, kebenaran yang sudah dibangunnya. Sokrates lebih memilih meminum racun daripada melarikan diri ataupun meminta keringanan-keringanan. Dia digambarkan orang yang memiliki kekuatan fisik dan mental sedemikian rupa, sehingga dia tahan akan panas, dingin melebihi manusia-manusia pada masanya. Dia digambarkan sering tiba-tiba diam dan merenung hal-hal yang digelutinya secara ide berjam-jam bahkan seharian seperti patung. Kaum sofis memiliki reputasi jelek setelah mereka sering berbenturan dengan Sokrates.

Mengapa Sokrates menggunakan nama Philosophus (Filsafat, Filosof)? Karena Pertama; Kerendahan hati dia, Yang mengakui bahwa dirinya bukan hebat tetapi dia hanya Cinta akan Kebijaksanaan. Kedua, tantangan pada Sofis (yang mengklaim dirinya sarjana, orang pandai). Seakan-akan Sokrates hendak mengatakan, Kamu yang sok pandai dan mengajarkan hal-hal seperti itu, tidak layak disebut dan menyandang nama “Orang-Bijak”. Bahkan saya yang mampu mengalahkanmu dengan alasan-alasan yang lebih kokoh, tidak merasa layak menyandang gelar itu. Hanya cukup dengan Cinta pada Kebijaksanaan (Filosof). Sejak saat itu kelompok Sokrates disebut sebagai Filosof sebagai lawan dari sophistry (ke-sofis-an atau kerancuan berfikir). Dalam istilah Arab ada sufisthy dan juga safsathah (kerancuan berfikir).[3]

PLATO. Plato mewarisi pikiran dari Phitagoras lewat Sokrates tentang unsur-unsur keagamaan Athena (Orphis), keyakinan akan immortalitas, sifat yang mengutamakan dunia ide, nada bicaranya seperti kaum pendeta, juga sikapnya yang memuliakan Matematika serta pandangannya yang membaurkan antara intelek dan mistisisme. Dari Permenides, Sokrates mewarisi bahwa realitas bersifat kekal dan tak terbatas waktu, dan melihat bahwa segala perubahan itu hanyalah kenyataan semu. Dari Heraklius ia mewarisi doktrin bahwa tak ada yang tetap didunia kasat mata ini. Sehingga disimpulkan bahwa pengetahuan tidak bersumber dari Indra, namun hanya diperoleh lewat intelek (ini sama dengan Phytagoras). Konsep-konsep inilah yang akhirnya melahirkan Etika-Politik Plato dimana negara harus dikepalai oleh filosof dan seterusnya. Dimana filosof itu adalah manusia-manusia bijak yang mementingkan kebaikan, keadilan, kebenaran diatas hal-hal yang keseharian, berubah-ubah.

Konsep Plato yang paling menarik adalah “Alam Ide”, karena Plato-lah banyak hal saat ini dipercaya dan digemari, misalnya Matematika. Plato membedakan antara “Pengetahuan” dan “Opini”. Orang yang memiliki pengetahuan berarti memiliki pengetahuan tentang ‘sesuatu’, yakni sesuatu yang eksis, sebab yang tidak eksis berarti tidak ada. Jadi pengetahuan tidak mungkin salah, sebab secara logis, mustahil bisa keliru. Sedangkan opini bisa keliru. Opini tidak mungkin tentang sesuatu yang tidak eksis, sebab tidak eksis itu tidak ada, tetapi juga bukan sesuatu yang eksis, jadi opini adalah pastilah sesuatu yang eksis sekaligus tak eksis. Bagaimana ini? Sesuatu yang partikular itu selalu mengandung sifat-sifat yang berlawanan, adil-tidak adil, indah-tidak indah. Semua objek indrawi itu bersifat partikular (Plato) sehingga selalu mengandung perlawanan, inilah objek opini, sementara yang absolut, tetap, eksis adalah objek pengetahuan bukan opini. [4]Jadi opini tentang dunia indrawi sementara pengetahuan tentang dunia supra-indrawi, ide. Karenanya mereka percaya bahwa yang partikular, dunia indrawi itu tidak real, eksis.

Plato mengatakan bahwa “Kuda”, berbeda dengan kuda-kuda yang ada disekitar kita. Yang ada dialam ini, yang ada disekitar kita adalah contoh-contoh kuda, partikular, sementara ‘Kuda’ adalah menghilangkan hal-hal yang tidak sama dari berbagai macam kuda dan keluarlah dengan abstraksi kita, menjadi ‘Kuda’ (yang eksis). Kuda itu tidak mati saat kuda-kuda itu mati, dia tetap eksis. Kuda tidak berada pada ruang dan waktu. Saat kita bicara ‘Kucing’ maka kita tidak berbicara kucing warna kuning milik Pak Udin, kucing jantan milik tetangga sebelah rumah, kucing belang telon dan kucing-kucing lainnya, itu adalah kucing-kucing partikular, atau contoh-contoh kucing yang ada, sementara “Kucing” ada dalam konsep kita, ada dialam ide yang eksis, tidak mati saat kucingnya Pak Udin atau kucing belang telon mati. Tuhan hanya menciptakan satu “Kucing” yang eksis. Mengenai kucing yang eksis ini kita dapat memperoleh pengetahuan, sementara kucing belang telon, kucing Pak Udin dan lainnya, kita hanya mendapatkan “Opini”. Karenanya filosof seringkali tidak peduli dengan hal-hal yang partikular, tetapi mereka sibuk dengan alam-alam ide yang eksis (menurut Plato).

Plato membagi Dunia Intelek dan dunia Indrawi. Dunia Intelek dibagi menjadi 2 yaitu Akal dan Pemahaman.  Akal memiliki kedudukan yang lebih tinggi, sebab berhubungan dengan ide-ide murni dan metodenya adalah dialektika. Sementara Pemahaman adalah jenis Intelek yang digunakan dalam Matematika. Kedudukannya lebih rendah karena pemahaman menggunakan hipotesa-hipotesa, yang tak dapat diuji. Matematika mengatakan lingkaran yang definisinya adalah titik-titik yang berjarak sama dari pusat. Apakah ada lingkaranga seperti ini? Untuk memberikan atau membuktikan bahwa itu benar, maka mesti ditemukan bukti titik dalam ide (supra indrawi). Saat ingin mengatakan garis, maka dibuktikan adanya titik, dan ini ada dalam alam ide (supra indrawi). Jadi ilmu matematika itu bisa berjalan memerlukan beberapa asumsi-asumsi atau bukti yang dibenarkan oleh Akal, bukan Pemahaman.

[Mata itu mampu melihat sesuatu bila matanya baik dan objeknya diterangi cahaya, kalau tidak maka akan kabur bahkan tidak terlihat suatu objek itu. Inilah perumpamaan antara Mata-Jiwa dan Matahari/ruh-Kebenaran, Filosof dan Teosifi. Cobalah anda bayangkan dalam ilmu-ilmu umumnya? Dari suatu kontruksi teoritis, dibangusn kontruksi teoritis yang lain-lagi, dari opini dibangunlah opini-opini lagi, maka pengetahuan modern sebagiannya, bahkan sebagian besar-nya adalah opini yang sangat kabur. Sekadar contoh; Psycological Capital yang dikemukanan oleh Fred Luthan. Konsep ini dibangun dari 4 kontruksi teoritis yaitu Hope, Self Efficacy, Optimisme dan Ressilience. Problemnya, ke-4nya adalah kontruksi teoritis dan itu dibangun dari kontruk teoritis dari lainnya, yang dibangun berdasarkan definisi, definisi operasional dan kuesioner. Maknya adalah agak kabur, makin kabur dan makin kabur. Mungkin contohnya kurang pas karena diambil dari ilmu sosial].

Setelah mendapat pencerahan, maka mereka mestinya kembali kemasyarakat dan berbicara dengan mereka, walaupun akan mengalami kesulitan karena realita yang difahaminya berbeda. Disepanjang filsafat Plato terjadi perpaduan antara intelek dan mistisisme sebagaimana terdapat dalam Pythagoreanisme, namun puncaknya mistisisme lebih diutamakan. Ada sebuah keanehan atau semacam paradox dalam pengikut Plato, satu sisi mereka mengagungkan Matematika dan Mistik, tetapi kalau kita lihat pengikut Platonis modern atau yang semacamnya mereka rata-rata lemah dalam hal Matematika. Karena kecendrungan pada ilmu murni dan mengabaikan indrawi, maka mereka akhirnya lemah dalam observsi, eksperiment dan penelitian ilmiah. Mungkin inilah penyebab mengapa umat Islam mundur saat mulai meninggalkan Aristoteles dan mengarah pada Plato, dan setelah serangan al Ghazali terhadap Filsafat. Serangan-serangan kepada tubuh dan supremasi jiwa, ruh, dimana dikatakan kalau menginginkan pengetahuan bukan opini, maka tubuh, tempat kekaburan, indra yang cenderung menipu harus ditinggalkan. Disinilah olah jiwa dilakukan dengan sufi tetapi meninggalkan Matematika (yang diharapkan oleh Phitagorean), juga penyelidikan ilmiah.

Sokrates tetap meminum racun walaupun dia yakin bahwa dia tidak bersalah dan mampu untuk melarikan diri. Murid-murid Sokrates sudah menyiapkan untuk pelarian guru-nya dengan menyuap penjaga penjara, tetapi Sokrates mengatakan, sebentar marilah kita berbicara apakah aku layak melarikan diri atau tidak. Dan Sokrates menyuruh murid-muridnya menyingkirkan Xanthippe, istri Sokrates yang terus menerus menangis. Apakah kita layak melawan hukum yang sudah kita tetapkan sendiri? Apakah apabila ada kebenaran yang disepakati umum, lalu kita ditetapkan bersalah oleh hukum itu, kita layak melawannya? Mungkin Sokrates akan berkata, tidak. Kita tidak layak membangkangnya walaupun secara pribadi kita yakin tidak bersalah. Bahkan Nabi-pun memberikan hukum sesuai dengan alur hukum. Dengan kita tetap mengikuti dan tunduk kepada hukum itu, maka kita akan memperoleh balasan diakhirat berupa pahala, nilai-nilai dialam bawah tanah atau dilangit bersama para dewa. Diskusi etika-hukum, ushil-figh atau filsafat hukum tentang detik-detik akhir Sokrates sangat menarik.

[1] Russell, hal 99.
[2] Russell, hal 108.
[3] Taqi Mizba Yazdi, Daras Filsafat Islam, Mizan, Bandung.
[4] Russell, hal 164.

Muhammad Alwi
Psikolog dan Konsultan Pendidikan. Peminat Studi Islam, Psikologi-Filsafat dan Pendidikan.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s