Pengantar : Perjalanan Spiritual

Foto Ana

Muhammad Alwi

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang rindu pada Tuhannya. Maulana Rumi menceritakan itu dalam syair dalam Matsnawinya tentang “Seruling Bambu”.

Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu,
ratapan pedihku telah membuat
berlinang air-mata orang.

Kuseru mereka yang tersayat hatinya
karena perpisahan. Karena hanya mereka yang pahami sakitnya kerinduan ini.

Mereka yang tercerabut dari tanah-airnya
merindukan saat mereka kembali.

Dalam setiap pertemuan,
bersama mereka yang tengah gembira atau sedih,
kudesahkan ratapan yang sama.

Masing-masing orang hanya dapat mendengar
sesuai pengetahuannya sendiri-sendiri.
………

Dan dikatakan oleh Allah dalam Al Qur’an, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik/muhsinin.” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 69).

Orang-orang yang yang berusaha sungguh-sunggu untuk mencari, biasanya dalam Islam disbut para urafa, irfan atau sufi-filosofis.

Mulla SadraIrfan adalah upaya untuk melukiskan hubungan Manusia dengan Dunia dan dengan Tuhan dan bagaimana menapaki serta menentukan hubungan-hubungan itu dengan berbagai kewajiban yang dilahirkan oleh hubungan tersebut.

Ada beda antara filosof dan urafa (arif, ahli irfan). Monoteisme (tauwhîd) atau Keesaan Allah yang dicari seorang arif dan yang merupakan tujuan tertinggi kemanusiaan sangat berbeda dari monoteisme orang-orang awam. Bagi seorang filosof, Keesaan Allah bermakna bahwa hanya ada Satu Wujud Hakiki, tidak lebih dari satu. Kaum arif berpandangan bahwa Keesaan Allah berarti bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud yang benar-benar ada. Keberadaan segala sesuatu lainnya hanyalah ilusi semata. Monoteisme seorang arif diwujudkan dengan melakukan perjalanan spiritual dan-dengannya-mencapai tahap di mana dia tidak melihat sesuatu yang lain kecuali Allah. Karena perbedaan pandangan ini seringkali Filosof dikafirkan dan ahli irfan juga dibid’ahkan bahkan dikafirkan.

Perbedaaan Irfan dan Filsafat

  • Filsafat memijakkan berbagai argumennya pada postulat-postulatnya, sementara ilmu mistisisme atau irfan mendasarkan argumen-argumennya pada visi dan intuisi serta kemudian mengemukakan berbagai teorinya secara logis/koheren.
  • Pemikiran dalarn filsafat bisa dibandingkan dengan kajian atas sebuah tulisan dalam bahasa aslinya, dan pemikiran dalam irfan bisa dibandingkan dengan kajian atas sebuah tulisan terjemahkan dari bahasa yang berbeda.
  • Yang dikermukakan sendiri oleh kaum arif adalah bahwa mereka menyatakan dalam bahasa pemikiran-apa yang mereka lihat dengan mata kalbu dan segenap eksistensi fisik mereka. Konsepsi ihwal eksistensi dalam irfán sangat berbeda dari konsepsi tentang eksistensi dalam filsafat.
  • Dari sudut pandang seorang filosof, eksistensi non-Tuhan sama rielnya dengan eksistensi Tuhan. Perbedaannya adalah bahwa Tuhan adalah Wujud yang secara esensial benar-benar ada dan mengada dengan Sendiri-Nya. Sementara itu, segala sesuatu non-Tuhan bukanlah eksistensi yang secara esensial benar-benar ada dan mengada dengan sendírinya. Dari sudut pandang kaum arif, eksistensi Allah meliputi segala sesuatu dan segala sesuatu adalah manifestasi berbagai nama dan sifat-Nya. Tak sesuatu pun bisa dikatakan benar-benar ada di depan keberadaan-Nya (akan diterangkan dalam kajian selanjutnya).
  • Sang filosof ingin memahami alam semesta ini. Dia ingin mempunyai gambaran tentang alam mesta yang benar, sempurna, dan menyeluruh dalam benaknya. Di mata seorang filosof, capaian tertinggi manusia adalah mampu memahami dunia sedemikian rupa sehngga-dalam eksistensinya sendiri-eksistensi dunia ini pun tegak dan dia sendir menjadi dunia. Seorang arif tidaklah tertarik pada akal dan intelek. Dia ingin menjangkau hakikat eksistensi, yakni Allah sendin. Di ingin berjumpa dengan hakikat ini dan mengamatinya. Menurut kaum arif, capaian tertinggi manusia ialah kembali kepada asal-usulnya (yakni, dari mana dia datang) guna menghilangkan jarak antara dirinya dengan Allah serta menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan untuk berusaha hidup abadi dalam Diri Allah.
  • Seorang filosof menggunakan akal dan inteleknya, sementara seorang arif-demi mencapai tujuannya-menggunakan kalbu dan jiwa suci serta upaya spiritual terus-menerus.

Beberapa kelompok mengkritik irfan/Tasawuuf, baik dari ahli fiqh, kaum modernis ataupun kelompok yang cukup jernis, dimana mereka menyatakan bahwa ada penyimpangan-penyimpangan dalam tasawwuf/irfan. Tetapi kalaupun ada penyimpangan-penyimpangan ini, maka penyimpangan itu juga terjadi dalam filsafat, tafsir, teologi dan lainnya. Kesalahan-kesalahan dan penyimpangan itu tidak menjadikan irfan/tasawwuf menjadi bathil.

Walauapun sama-sama menganggap syariat atau aturan hukum Islam didasarkan atas kebenaran-kebenaran dan pemikiran yang baik yang mengimplikasikan adanya berbagai manfaat dan keuntungan, tetapi ada perbedaan dianatar keduanya. Para fagih menganggap itu adalah dasar manfaat dan spiritualnya bila dijalankan, sementara kaum arif, menganggap itu adalah tahapan untuk mengantarkan manusia menuju kedekatan kepada Allah dan membimbingnya guna meraih Kebenaran.

1) Sebagian kelompok mengatakan bahwa Irfan/Tasawwuf itu tidak berasal dari Islam, mereka masuk kedunia Islam dari pengaruh luar baik dari Yahudi, Kristen atau Filosof Yunani, itu adalah produk atau efek samping dari filsafat neo-Platonis yang merupakan gabungan dari pandangan-pandangan Aristoteles, Plato dan Phytagoras. Kadang mereka juga mengatakan itu adalah pengaruh dari agama Budha dan lain sebagainya. Kelompok ini menganggap Islam dan al Qur’an itu sederhana, jelas, gamblang dan tidak mengandung sesuatu yang menarik, mesterius dan tak bisa dipahami. Mereka menganggap 2) Para sahabat dan orang-orang Islam dahulu hanya melakukan kezuhudan (Asketisme). Asketisisme bermakna menjauhi berbagai kemewahan dan kenikmatan duniawi yang bersifat sementara demi meraih kejayaan dan kebahagiaan spiritual abadi dan ukhrawi. Guna mencapai tujuan ini, seseorang haruslah mematuhi aturan-aturan hukum tertentu yang disebutkan dalam yurisprudensi (fiqh). Sementara Perjalanan Spiritual (sayr wa suluk) kelompok Irfan/Tasawwuf yang berupa Tarikat, berbeda dengan syariat (Hukum Islam), aturan dan amalan-amalan dalam tarikat tidak dijumlai dalam yurisprudensi (figh) Islam. 3) Keesaan/Tauhid yang diupayakan dan difahami oleh ahli irfan berbeda dengan moneteisme Islam secara umum.

Mereka tidak melihat bagaimana al qur’an tantangan dan inspirasi al qur’an yang mengarahkan manusia-manusia pilihan dalam Islam merenungi itu. Seperti, …Ke manapun kamu menghadap, disanalah wajah Allah, … (2:115). …Dan Kami lebih dekat kepadanya ketimbang urat lehernya (50:16). Dan dialah Dzal Mahaawal, Mahaakhir, Mahalahir dan Mahabatin, Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu (57:3). Ayat-ayat ini mengajak kita merenungkan monoteisme yang lebih luhur dan lebih tinggi ketimbang monoteisme orang-orang awam. Dan banyak ayat-ayat lainnya seperti “pertemuan dengan Allah” dan lain sebagainya. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik/muhsinin.” (QS. Al-Ankabut 29: Ayat 69).

Nabi bersabda bahwa Allah berfirman, “Manakala hamba-Ku mendekati-Ku melalui amal-amal ibadah dan kebaikan, Aku pun mencintainya. Dan manakala Aku sudah mencintainya, Aku menjadi telinganya yang dengan itu dia mendengar. Aku menjadi matanya yang dengan itu dia melihat. Aku menjadi lidahnya yang dengannya dia berbicara dan menjadi tangannya yang dengannya dia memegang.” Intinya walaupun tanpa menafikan memang ada pengaruh-pengaruh asing juga masuk dalam Islam, baik itu teologi, filsafat, hukum dan lainnya, tetapi Al qir’an, hadist tauladan Nabi dan perilaku manusia-manusia agung zaman awal memberikan bukti bahwa itu bersumber dari Islam.  Seorang orietalis semacam Richard Nicholson (Inggris) dan L. Masiiggnon (Prancis), memberikan bukti bahwa al Qur’an memberikan inpirasi itu dengan berbagai ayat-ayat-nya.

Sejarah Irfan/Tasawwuf

Kata sufi muncul pada abad 2H. Abu Hasyim dari Kufah orang pertama yang digelari ini, dia adalah guru Abu Sufyan Ats-Tsawary, yang meninggal 161H. Abu Khasim membangun biara (khanaqah) di Ramlan Palestina. Nicholson mengatakan mulai pada akhir abad 2H. Dalam al Kafi, selama zaman Imam Jakfar Siddiq, ada beberapa orang yang diknal sebagai Sufi. Betapapun abad 2H baru ada kelompok itu, tetapi sahabat-sahabat Nabi tidak saja melakukan ke-zuhud-an, mereka juga mempunyai kehidupan spiritual. Ungkapan terkenal dalam Safinal al Bihar, ada hadist yang mengatakan, “Jika Abu Dzar mengetahui yang tersembunyi dihati Salman, dia pasti bakal membunuhnya (krena menganggap Salman kafir). Ini menunjukkan ada pemahaman-pemahaman spiritual sejak awal, hanya pengelompokan, ordo, tarekat khusus baru abad ke 2H.

Arif Abad ke 2H. Hasan al Basri, Malik Ibn Dinar, Ibrahim Ibn Adham, Rabiah al Adawiyah, Abu Hasyim Shufi, Syaqiq al Balkhi, Ma’ruf al Kharki, Fudhayl ibn Iyadh. Abad ke 3H. Bayazid Bustomy, Bistir al Hafi, Sari as Saqati, Harits al-Muhasibi, Junayd al Baghdadi, Dzun-Nun al Misri, Sahl ibn Abdullah At Tustasri, Husain ibn Manshur al Hallaj.  Abad 4H. Abu Bakr asy Syibli, Abu Ali ar Rudbari, Abu Nasr Sarraj ath Thusi, Abu Thalib al Makki. Abad 5H. Abu Said Abu al Khayr, Abul Hasan Ali Ibn Usman al Hujwiri, Khawaja Abdullah al Anshari, Abu Hamid Muhammad al Ghazali. Abad 7H. Syaikh Fariduddin al Attar, Syaikh Syihabudin Suhrawardi Az Zanjani, Muhyidin ibn Arabi, Shadaruddin Muhammad al Qunawi, Jalaluddin Muhammad al Balki ar Rumi.  Abad 8H Abdurrazaq al Kasyani, Khawaja Hafidz asy Syirazi, Abdulkarim al Jilli.  Abad 9H. Syah Ni’matullah Wali, Muhammad Hamzah al Fannari ar Rumi, Al Lahiji An Nurbakhsyi.

Tetapi beberapa Ilmuwan berpendapat, sesudah abad 9H, sejarah tasawuf dan irfän berubah sama sekali. Pertama, kini, bahkan sufi-sufi terkemuka pun tidak mempunyai pengetahuan dan kemampuan sebagaimana yang dimiliki oleh guru-guru pembimbing mereka sebelumnya. Barangkali memang benar bahwa, sesudah abad kesembilan Hijrah, tasawuf telah bercampur dengan berbagai rituis kering dan dangkal serta bid’ah yang dibuat-buat. Kedua, ada sebagian orang yang tidak termasuk dalam tarekat sufi mana pun ternyata lebih menguasai gagasan-gagasan irfân. Muhyiddin Ibn Al-‘Arabi ketimbang sufi anggota berbagai tarekat umpamanya saja, Mulla Shadra Asy-Syirazi (w. 1050 H), dan muridnya yakni, Faydh Al-Kasyani (w. 1091 H), serta murid dari muridnya-yakni, Qadhi Sa’id Al-Qummi (w. 1103 H) lebih mengetahui dan menguasai teori-teori serta gagasan-gagasan mazhab Ibn Al-Arabi ketimbang sufi-sufi terkemuka di zamannya, meski tak satu pun dari mereka ini termasuk dalam sebuah tarekat sufi tertentu.

Perbedaan Arif dan Non-Arif (Manusia Biasa)

Ibnu Sina

Ilmuwan Islam Ibn Sina

Seorang arif itu berangkat dari pemahaman akan ketuhanan yang sangat mendalam, bahkan kadang mereka dianggap melakukan bid’ah atau kafir seperti Ibn Arabi dkk. Dari tahapan pemahaman akan Allah inilah maka menimbulkan perbedaan tujuan, cara bahkan harapan dalam ritual ibadahnya, dimana mereka berhubungan dengan khalik-Nya. Irfan berbeda dengan Filosof, apalagi fagih, manusia biasa atau manyarakat umum.

Dalam Kitab Ibn Sina Al-Isyarát wa Tanbihat, Beliau mendefinisikan “Seorang zahud adalah dia yang meninggalkan dan menjauhi berbagai hal dan kesenangan duniawi. Seorang Abid adalah dia yang ketat dalam menjalankan berbagai amalan ibadah seperti shalat, puasa, cdan sebagainya. Orangg yang memalingkan perhatiannva dari segala sesuatu selain Allah dan memusatkan pikirannya pada alam ketuhanan dengan maksud mencerahkan jiwanya di bawah pancaran cahaya Ilahi disebut seorang Arif.

Seseorang bisa menjadi seorang zåhid sekaligus âbid atau seorang zâhid sekaligus ârif. Ada yang âbid tanpa harus menjadi seorang arif. Seorang arif pastilah seorang zâhid dan sekaligus âbid. Ibn Sina menunjukkan bahwa kezuhudan seorang arif berbeda dari kezuhudan seorang non-arif, sebab masing-masing mempunyai filsafat kezuhudan yang berbeda. Begitu pula, filsafat ibadah seorang arif berbeda dari filsafat ibadah seorang non-arif. Sifat dan ruh kezuhudan dan ibadah seorang arif juga berbeda dari seorang non-arif. Kezuhudan seorang arif bermakna membersihkan hati dan kalbunya dari segala sesuatu yang bisa dan mungkin menghalangi perhatiannya kepada Allah.  Ibn Sina mengatakan, “Seorang arif hanya mencari Allah semata. Sama sekali dia tidak berurusan dengan segala sesuatu selaIn-Nya. Dalam pandangan-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih penting dan lebih berharga dari Irfan. Seorang Irfan dalam ibadahnya sudah melepaskan diri dari takut dan harapan.

Ada sebuah pertanyaan mengapa kalau Irfan hanya mencari Allah dia tetap beribadah? Jawabnya 1) Karena memang Allah berhak dan diibadahi. Ibadah bukan karena kewajiban, tetapi sebagai tanda syukur dan kelayakan Allah untuk diibadahi. 2) Ibadah itu baik, ibadah itu adalah kesukaan manusia yang ‘diperintahkan’ oleh Allah. Seperti Ucapan Imam Ali yang mengatakan, Ya Allah Aku beribadah kepadaMu bukan lantaran aku Takut pada nerakaMU atau lantaran mengharapkan SurgaMu tetapi aku beribadah kepadaMu karena Engkau memang pantas untuk diibadahi.

Tahapan Perjalanan Spiritual

  1. Iradah (kehendak).

Para kaum arif memiliki kaidah an-nihayah hiya ar ruju’ ila al bidayah (akhir berarti kembali keawal). Setiap manusia punya kecendrungan kembali kepada Allah (awal-nya, penciptanya). Dalam Matsnawi Rumi mengibaratkan dengan “Derita Seluring Babmbu”, yang selalu merintih untuk kembali keasalnya. Iradah adalah menanggapi seruan Kebenaran atas kemauan dan kehendak sendiri. Ibn Sina mengatakan, “Iradah adalah kerinduan yang dirasakan manusia takkala mendapati dirinya kesepian tak berdaya serta ingin bersatu dengan Kebenaran sehingga dia tidak lagi merasa kesepian dan tak berdaya”.

  1. Riyadhah (Latihan Spiritual).

Riyadhah mempunyai 3 tujuan; 1) Menyingkirkan segala sesuatu selain Allah yang menghalang-halangi di jalan spiritual; (2) Menundukkan jiwa yang menyuruh berbuat kejahatan (an-nafs al-ammárah) kepada jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma’innah); (3) Melemburkan jiwa batiniah dengan tujuan membuatnya siap menerima pencerahan. Disini memaksa, mengekang diri, mungkin mengalami sakit secara fisik, sehingga nafsu yang seperti kuda itu dapat dikendalikan. Inilah peran kezuhudan dan Abid diperlukan (menjauhi dunia, banyak berdoa, sholat, membaca al qur’an, puasa dan latihan-latihan lainnya). Saat latihan-latihan ini dilakukan maka seorang arif akan mulai merasakan cahaya ilahi, pantulan keagungan Allah dalam hatinya, dan didalam hatinya sangat menyenangkan. Keadaan ini disebut awqat (waktu-waktu). Hanya sesekali muncul, lalu hilang. Makin sering riyadhah maka keadaan ini makin sering terasakan. Kadang masih naik-turun sehingga kegembiraan saat datangnya dan kesedihan saat hilangnya itu terasakan oleh orang sekitarnya. Makin serius mereka riyadhah maka keadaan itu makin menetap dan sudah makin tenang sehingga orang disekitarnya tidak tahu kondisinya. “Mereka hidup bersama-sama orang lain tetapi jiwanya bersama Allah”. Inilah seperti yang dikatakan Imam Ali kepada Kumayl ibn Ziyad An-Nakha’i tentang para Wali Allah. Imam Ali mengatakan sumber pengetahuan dan hikmah keluar dari hati dan kalbu mereka. Apa yang tampaknya sulit bagi orang-orang yang hidup enak dan mewah bagi mereka-tampak mudah dan gampang. Mereka akrab dengan apa yang membuat takut orang-orang jahil. Raga mereka bersama orang lain, tetapi jiwa mereka ada dialam yang lebih tinggi”.

Apabila latihan ini sudah begitu mendalam, maka mereka sudah selalu dalam keadaan seperti ini, dia melihat Allah dan dirinya sendiri (Seperti orang didepan cermin yang kadang melihat kaca dan kadang melihat bayangannya sendiri). Tahap selanjutnya adalah wujudnya sendiri sudah tidak terlihat yang terlihat hanya Allah. Saat sudah seperti ini, maka selesailah tahapan perjalanan dari makhluk menuju Allah.

Ada 4 perjalanan bagi kaum arif muslim sejati yaitu 1) Perjalanan dari Mahluk menuju Tuhan, 2) Perjalanan Bersama Tuhan dalam Tuhan; 3) Perjalanan dari Tuhan menuju makhluk dan 4) perjalanan dalam makhluk bersama Tuhan.

Dalam perjalanan kedua, sang arif atau murid mengenal dan mengetahui Nama-nama dan Sifat-sifat Allah, dan dia sendiripun dinapasi oleh sifat-sifat ini. Dalam perjalanan ketiga, dia kembali ke makhluk guna membimbing mereka, tetapi tidak terpisah dari Allah. Dalam perjalanan keempat, dia melakukan perjalanan di tengah-tengah orang banyak, tetapi disertai Allah. Dalam perjalanan terakhir ini, sang arif tetap bersama orang banyak serta membantu mereka untuk mendekati dan menghampiri Allah. Uraian secara sangat rinci tentang hal ini, bisa dijumpai dalam berbagai kitab irfân dan tasawuf semisal Al-Asfâr Al-Arba’ah karya Mulla Shadra.

Bersambung pada : Al Qur’an Bicara Jalan-Jalan Spiritual (1) dan Al Qur’an Bicara Jalan-jalan Spiritual (2)

Muhammad Alwi
Psikolog dan Konsultan Pendidikan. Peminat Studi Islam, Psikolgi dan Filsafat serta Pendidikan

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s