Dua Wajah Tuhan : Figh/Teolog & Filosof/Irfan (1)

Foto SayaGagasan tentang Tuhan menuntut kita untuk memahamiNya sebagai dua hal, dualitas yaitu Dia dalam Dirinya sendiri (Dzat, Essensi) dan dalam hubungan kita dengan Dia (Ketuhanan). Ini sama dengan ketakberbandingan dan keserupaan.

Tauhid berarti Tiada Tuhan Selain Allah. Teks ini menandakan ada dualisme Allah. Pertama Tuhan secara esensial (dzat) nya. Tuhan yang esa, tak terbagi, berbeda dengan yang lainnya dan kedua, Selain Allah (artinya ada yang mirip-mirip dengan Allah, Tuhan-tuhan lain). Tuhan mengejawantahkan diri pada Alam dan Diri Manusia. Pengejawantahan bermakna bukan dirinya yang Asli (dzat-nya). Saat kita men-Tauwhid-kan Tuhan, maka kita sebenarnya membedalan antara Tuhan dan Diri Kita.

Essensi Tuhan tidak ada yang mengetahui kecuali Diri-Nya sendiri. Ada Tuhan dalam konsepsi kita, Tuhan yang kita ketahui dengan Tuhan yang sebenarnya (Tuhan dalam Diri-nya, Dzat-nya). Kita tidak mengenal Tuhan, Tuhanlah yang mengenalkan Diri-Nya. Tidak ada yang hakiki selain Dia, maka baik Makrokosmos dan Mikrokosmos bukanlah sesuatu yang hakiki. Keberadaan mereka karena pemberian keberadaan dari Tuhan.

Kalau kita ingin mendekatkan pemahaman ini, kita bisa bertanya; Mungkinkah yang relatif, kecil dan tidak memiliki cahaya mampu mengetahui yang absolut? Apa yang bisa diketahui sebuah semut dihadapan Bumi dan Alam Semesta yang maha luas? Bisakah kita melihat sesuatu tanpa cahaya yang diberikan pada Kita?

Manusia tidak mampu memahami sesuatu tanpa konsep perbandingan yang dia miliki. Disinilah manusia memahami Tuhan dengan jejak-jejak yang diberikan Tuhan, yang diharapkan manusia akan memahami-Nya. Karenanya pemahaman itu adalah pemahaman relatif, yang diberikan oleh Tuhan lewat Makrokosmos dan Mikrokosmos. Manusia tidak akan mengenal Tuhan, kecuali Tuhan sendiri yang mengenalkan Diri-Nya pada Manusia. Karenanya dalam al Qur’an Tuhan membuat metafora-metafora, bagaimana Surga itu ada telaga madu, susu, bidadari, yang cantik dengan mata jelita dan lain sebagainya? Kita pasti membayangkan itu dengan referensi informasi, perbandingan yang kita miliki. Tetapi Tuhan cepat-cepat mengatakan dalam ayat lainnya, itu semua tidak seperti yang kau kira, karena tidak pernah kalian dengan, lihat dan bayangkan. Alam akhirat lain daripada alam dunia, tetapi berbicara dengan manusia yang itulah cara berfikirnya, maka metafora mesti dilakukan.

Ying dan Yang

Dualitas Wajah Tuhan : Ying-Yang

Karenanya ada Essensi Tuhan yang tidak terjangkau oleh yang lain dan Tuhan yang mengejawantahkan diriNya di alam. Ini dua hal yang berbeda dalam pemahaman bukan realitasnya. Nama- nama Allah itu banyak sekali, dan nama-nama itu bersifat relational. Nama Jalal dan Jamal saling berkelindan. Seorang ayah bagi dirimu, itu bisa paman bagi yang lain, anak atau teman bagi yang lainnya lagi. Tuhan yang gagah perkasa dan adil pada orang-orang kafir, tetapi pemaaf dan lembut pada orang-orang mukmin. Manusia di hadapanmu bisa jadi iblis dihadapan lainnya.

Tuhan selalu dalam dua wajah.

Allah tidak bergantung pada seluruh alam (3: 97). Tak ada sesuatupun serupa denganNya (42: 11). Segala sesuatu bakal binasa dan musnah, kecuali waktu-Nya (28: 88). Tetapi Tuhan juga, senantiasa bersamamu dimana saja kamu berada (57: 4), lebih dekat kepada dirimu ketimbang urat lehermu sendiri (50: 16), kemanapun kamu berpaling dan menghadap disitulah wajah Allah (2: 115). Disamping tuhan perkasa, independen dan lain sebagainya. Tetapi, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186). Disini Tuhan menanggapi dan memperhatikan prakarsa kita (tidak “total” independen). Maksud tidak total independen disini adalah bahwa Tuhan bisa dipengaruhi dengan perilaku hambaNYa, doa-doa-nya, ratapannya dan lain-lain.

Dalam melihat dua wajah Tuhan ini, ada yang condong pada satu sisi dan sisi lainnya. Kelompok Syariat (Ahli Figh, Teolog dan Filosof yang awal) cenderung berfikir kearah ketakberbandingan Allah dengan yang lain. Sehingga karena Tanzih (ketakberbandingan) yang dikedepankan maka konsekuensinya Allah tidak ada hubungannya dengan Alam sama sekali. Sehingga hasilnya adalah ta’thil yaitu gagasan bid’ah, gagasan bahwa Allah sama sekali berbeda dengan Alam. Sementara Kelompok Sufi dan Irfan (Filosof sekarang, madzab Mulla Sadra), cenderung kepada konsep Tasybih (keserupaan dengan Alam). Sehingga kadang melahirkan konsep hulul (inkarnionisme) atau unifikasionisme (ittihad), yaitu pandangan bahwa Allah dan Alam adalah satu (panteisme).

Kesalahpahaman kelompok syariat terhadap kaum Irfan/Filosof sekarang ini, umumnya terjadi karena, pertama karena mereka tidak mampu memahami apa hakekat irfan/Filosof. Bahkan banyak yang awalnya menolak kemudian justru mengkuti mereka. Kedua, perbedaan definisi antara kedua kelompok tersebut, atau perbedaan yang dimaksud oleh Irfan/filosof dengan teolog/figh. Ini terjadi misalnya pada diskusi yang tak pernah selesai dan berkepanjangan terhadap pertanyaan, “apakah Ada yang qadim selain Allah?” Ketiga, beberapa “Sufi” melakukan tarekat-tarekat yang kadang cukup jauh dari yang semestinya dilakukan. Mengapa disini saya bedakan sufi dan irfan/Filosof? Sufi/Tasawwuf, Irfan/Filosof sama-sama menggunakan visi/penglihatan dengan qalbu-nya, dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Tetapi Irfan/Filosof mengatakan, visi-visi itu wajib menggunakan penalaran, memiliki kohorensi dan terjelaskan dengan rasional saat ingin disampaikan. Karena ifran/filosof berjalan melewati pemahaman filosofis sebelum menjadi irfan (sufi-filosofis), sementara sufi/ahli tasawwuf tidak melewati pendekatan rasional sebelum menapak jalan spiritualnya. Maka kebanyakan sufi tidak mampu atau sulit memberikan penjelasan-penjelasan rasional akan visi-visi yang didapatkannya. Ibn Arabi adalah salah satu tokoh sufi “yang paling mampu” memberikan penjelasan-penjelasan itu.

Wahdatul WujudTetapi pada intinya secara umum, baik Teologi, filosof juga Irfan/Sufi rata-rata percaya bahwa awalnya mesti syariat. Dalam praktiknya dimensi-dimensi Islam yang menekankan ketakterbandingan itulah yang mendahului dimensi-dimensi yang menitikberatkan keserupaan. Karena Syari’ah menekankan ketakterbandingan dan ingin menunjukkan kebesaran Allah serta ketidakberartian manusia, maka pengamalan Syari’ah adalah fondasi bagi bangunan jalan menuju Allah. Mengikuti dan mematuhi perintah-perintah Allah serta tunduk kepada kehendak Ilahi akan membukakan jalan bagi manusia menuju rahmat, kebaikan dan kemurahan Allah.

Dikatakan, Pertama, orang harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku ditanah raja; kemudian hanya mereka sajalah (yang beradab, mengikuti aturan sopan santun) yang dipanggil menghadap Raja. Manusia adalah budak atau hamba (‘abd). Kualitas yang sangat diinginkan dari manusia adalah “tunduk” (islam) pada kehendak Allah, yang memanifestasikan dirinya sebagai pelaksanaan syariat-Nya. Gambaran situasi manusia ini jelas bergantung pada seorang penguasa atau raja yang memberikan perintah. Manusia harus mematuhi hukum guna menunjukkan penghormatan yang pantas diterima oleh Raja. Sementara dalam perspektif tasybih (keserupaan), manusua adalah wakil tuhan dibumi. Wakil berarti memiliki sifat yabg diwakili. Manusia sudah diberikan bekal nama-nama, essensi setiap segala sesuatu dalam dirinya. Dan sifat itu tidak lain adalah manifestasi sifat-sifat Tuhan.

Manusia sebagai budak (51: 56) adalah pandangan sentral Islam dan umum diterima secara universal. Sementara manusia sebagai wakil tuhan di bumi, khalifah (31: 20), menjadi diskusi dan perlu penjelasan-penjelasan yang cukup serius. Mengapa? Karena kesalahpahaman disini, ketidaksiapan memahami dan lain sebagainya akan mengacaukan secara psikogi dan sosial. Inilah mengapa para filosof sekarang cenderung irfan dan memberilan penjelasan yang cukup gamblang dan jelas bahwa apapun sesuatu itu harus seduai dengan “syariat.”

Hubungan korespondensi kosmos (selain tuhan) dan Tuhan. Sangat penting untuk dielaborasi supaya kita tidak salah dalam melihat teks-teks kaum irfan, utamanya kelompok Ibn Arabi. Seperti teks dibawah ini;

“Tegakkan aku, agar bisa aku tegakkan diri-Mu sebagai Tuhan.
Jangan nafikan “aku,” agar Engkau tidak hilang.
Ruh Eksistensi Agung adalah eksistensi kecil ini, Kalau bukan karenanya, Dia tidak akan mengatakan,
“Aku Mahabesar, Mahakuasa.”
Dia memujiku, dan aku memuji-Nya, Dia menyembahku, dan aku menyembah-Nya.”

(Ibn Arabi, Futuhat al Hikam, dalam Murata, hal 90.).

Teks seperti ini bila dibaca secara harfiah, tanpa pembahasan dan pendasaran sebelumnya, bahwa Tuhan itu takterhingga, berbeda dengan yang lain dan Tuhan serupa dengan Alam akan membingungkan dan menyebabkan tuduhan yang bermacam-macam. Padahal maksudnya adalah metafora ada keserupaan saat berfikir dan melihat tasybih antara Tuhan dan Wakil Tuhan.

Engkau Mengenalkan Diri-Mu maka Aku Mengenal-Mu.
Aku Ada maka Engkau Ada. (Bersambung)

 

Wallahu A’lam bi al Shawab
Muhammad Alwi
Psikolof, Konsultan Pendidikan. Peminat studi Islam, Psikologi-Filsafat dan Pendidikan

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s