Dua Wajah Tuhan : Figh/Teolog & Filosof/Irfan (2)

Penciptaan Pluralitas

Foto Saya

Muhammad Alwi

Sebelum mencipta makhluk, maka Dia bukan Khaliq. Sebelum ada abd/hamba maka tidak ada Tuan. Inilah mengapa Allah sebagai khazanah tersembunyi ingin dikenali, diketahui. Sebab semua sifat Allah itu tidak terkenali dalam Dzat-nya. Alam adalah locus agar sifat-sifat itu termanifestasi.

Ibn Al-‘Arabî kadang menyebut Dua prinsip Tuhan yaitu ‘Penyamaan’ dan ‘Pembedaan’. Tujan adalah ‘Sang Pengatur’ lantaran Dia menetapkan ukuran dan kadar segala entitas yang tak berubah. Sang Pengatur adalah Wujud, sebab Ia mempunyai kualitas-kualitas tertentu yang tak berubah yang mesti menampak sesuai dengan konfigurasi-konfiguras spesifik yang ditetapkan oleh realitas Wujud sendiri.

Secara analogis, cahaya adalah tak berwarna, dan dia menetapkan dalam dirinya sendiri sifat-sifaf semua warna sebelum menampak dalam kondisi-kondisi yang tepat (disinilah aturan itu ditetapkan). Warna-warna adalah bawaan dari sifat cahaya itu sendiri. Dan pada tataran nama-nama Ilahi yang tak tampak atau warna-warna yang bersifat laten, semua realitas adalah satu, karena semuanya tidak mempunyai eksistensi selain Cahaya Zat Maha hakiki,

Sebaliknya, kerja Sang Pembeda adalah menganugerahkan eksistensi atas segala entitas, memungkinkan semua warna menampakkan diri secara individual, mengeluarkan semua ‘Khazanah Tersembunyi”.

Dualitas dalam Figh Umum dan Islam Umum.

Dalam kategori-kategori Figh sering disebutkan bahwa “Amal ibadah itu tidak diterima kecuali dia memenuhi syarat rukunnya”. Orang-orang non Islam akan dihempaskan semua amalnya bak fatamorgana (artinya amal-amalnya akan sia-sia tiada berarti) dan masih banyak penjelasan hadist dan ayat yang bercerita dengan kategori-kategori seperti ini. Tetapi banyak juga ayat-ayat yang lain dan hadist yang seakan juga memberikan khabar baik, bahwa yang penting percaya pada Allah, hari Akhir dan beramal sholeh mereka selamat. Islam itu bermakna kepasrahan pada kebenaran, bukan un sich beragama Islam formal. Tuhan tidak akan menghukum bila mereka tidak tahu (jahil yang serius), tidak akan dihukum kecuali setelah diutus ‘pengingat’ (Nabi dan seterusnya), bila mereka lalai dan ingkar baru ketentuan Allah itu berlaku. Allah memasukkan surga pada pelacur yang memberi makan seekor anjing yang kelaparan dan lain sebagainya.

Contoh lain, Amal tidak diterima kecuali mereka Iman. Imana yang bagaimana? Pada pada siapa? Syiah menetapkan harus berwilayah (Iman pada Iman 12), Sunnah (Asyariyah), percaya pada rukun Iman mereka yang 6. Apakah yang satu salah dan lainnya benar. Seandainya Syiah benar apakah Sunnah tidak diterima amalnya dan sebaliknya? Bagaimana dengan Mu’tazilah dan masdzab lain serta agama lain?

Disini akan kesulitan kita mensingkronkannya, baik hubungan antar agama atau antar madzab dalam satu agama, kecuali kita melihat dan memahami “Dualitas Wajah Tuhan” diatas yaitu ‘yang’ dan ‘ying’. Bapak yang mengatur, memberikan rambu-rambu, memberi hukuman dan hadiah sementara Ibu yang pemaaf, pengasih dan penyayang.

‘Aturan formal Figh’ adalah ketentual Allah dalam posisi ‘yang’, pada intinya kalau kamu melakukan sesuai dengan aturan-aturan itu maka kamu berhak atas surgaku, berhak atas nikmat-nikmat yang aku janjikan. Jika tidak, lalu….bukan berarti kamu tidak berhak? Kalau tidak ‘sesungguhnya aku maha pemaaf, dan maha pemurah.’

Artinya yang pertama adalah “yang” Keadilan Ilahi, dan yang kedua adalah ‘ying, pemaaf dan rahman, rahim.

Untuk mendekatkan pemahaman kita contohkan sebagai berikut; Kalau seseorang dengan perjanjian misalnya kamu berhak mendapatkan gaji 3juta, dengan syarat bekerja minimal 20 hari kerja. Apabila seseorang sudah melakukan itu maka aturannya ‘wajib’ diberikan gaji 3juta. Kalau seseorang sudah melakukan sesuai kontrak, maka ‘wajib’ baginya sesuai dengan Keadilan Allah, ia mendapatkan gaji itu. Lalu bagaimana bila tidak? Apakah orang tersebut tidak layak mendapatkan gaji itu? Kalau melihat ‘yang’, aturan, keadilan ilahi, maka orang yang melanggar aturan kesepakatan, tidak layak mendapatkan pemberian gajinya. Tetapi Tuhan memiliki sifat lain selain ‘yang’, yaitu ‘ying’ (keibuan, berbekas kasih, karim, rahman, rahim dan seterusnya). Sehingga Tuhan berkata, sekalipun kamu hanya bekerja 10 hari, bahkan 5 hari, kamu tetap saya berikan gaji mu (mungkin 3 juta, 2juta atau lainnya). Bukan karena kerjamu sesuai kesepakatan tetapi karena Maha Karimku, Maha Rahman RahimKu dan seterusnya.

Disinilah kita sadar bahwa manusia kebanyakan masuk surga Allah bukan karena amal (yang dikontrakkan dengan aturan dan keadilan Allah), tetapi kita masuk surga karena rahman dan rahim Allah.

Konsep Wahdahtul Wuju

Tao of Islam

Muhammad Alwi : Dualitas Wajah Tuhan

Dalam pemikiran Islam, wujúd (Wujud atau Eksistensi) dikontraskan dengan måhiyyah (kuiditas atau “keapaan”). Yang disebut terakhir ini sering kali digunakan sebagai sinonim bagi istilah-istilah seperti realitas (haqiqah), entitas (‘ayn), sesuatu (syay’), dan objek pengetahuan Ilahi (ma’lum). Berbagai pengarang yang berbeda membuat perbedaan di antara istilah-istilah itu.

Yang jelas, wujúd (Ada) dalam dirinya sendiri tidak bisa didefinisikan dan diketahui. sebab yang kita ketahui adalah manifestasi wujud dalam kursi, gelas, manusia, laptop, alam semesta dan lainnya. Pembatasan dan definisi macam apa pun hanya berlaku pada kuiditas, bukan pada wujud.

Kuiditas sesuatu bisa diketahui, namun bukan wujúd yang memungkinkannya hadir dalam pengalaman atau pengetahuan kita. atau, ditilik dari sudut pandang yang sedikit berbeda, kita hanya bisa mengetahui wujud sejauh yang ditentukan dan didefinisikan oleh sesuatu. Kita tidak bisa mengetahui wujid itu sendiri, kita hanya mampu mengetahui wujud karena kualitas-kualitasnya dimanifestasikan oleh sesuatu itu. Dalam ujaran lain, kita mengetahui wujūd melalui realitas-realitas sejauh mereka ada, atau sejauh mereka memanifestasikan wujúd.

Wujúd kadang-kadang dideskripsikan sebagai sesuatu yang tidak tampak dalam dirinya sendiri sembari menyebabkan segala sesuatu lainnya tampak. Ia identik dengan “cahaya,” yang tidak tampak dalam dirinya sendiri seraya memungkinkan kita melihat hal-hal lain.  Cahaya akan tampak setelah ia berbaur dengan kegelapan atau remang-remang, makin cemerlang cahaya, makin menyilaukan dan tak terlihat. Demikian juga wujud, sesungguhnya sesuatu itu ada, yang tak lain dari pantulan remang-remang dari Wujud hakiki.

Bentuk Allah yang tak terbedakan adalah Wujud, sementara bentuk Allah yang terbedakan adalah pengetahuan-Nya. Di dalam pengetahuan-Nya dijumpai adanya semua objek pengetahuan. Dia mengetahui segala sesuatu untuk selama-lamanya. Karenanya semua realitas, seluruh kuiditas pun dijumpai dalam pengetahuan-Nya. Allah mengetahui segalanya (kata segalanya itu mengandung makna kuiditas).

Menarik merenungi hubungan hamba dan Wakil Tuhan dalam diri manusia.

Ayat al Quran, “KepadaMu sajalah kami beribadah dan kepadaMu sajalah kami mohon pertolongan (Qs. 1: 4). Seperti sudah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, Manusia dalam hubungannya dengan Tuhan terbagi menjadi hamba (abd) dan khalifah (wakil Tuhan, Raja). Ibadah atau penyembahan adalah sifat sang hamba yang mematuhi perintah-perintah sang raja. Memohon pertolongan adalah sifat penyeru yang memasuki pintu raja dan berusaha masuk ke dalam istananya.

“Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah” karena kami adalah milik-Mu. “Hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan” karena kami ada lantaran diri-Mu.
“Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah” dengan menafikan kepercayaan akan takdir. “Hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan” dengan menolak kepercayaan akan kehendak bebas.
“Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah” lewat jerih payah dan usaha kami. “Hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan” agar Engkau berkenan menjaga kami dalam perjanjian kami.
“Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah” berarti mengikatkan sabuk ketekunan dan kerajinan di pinggang kebenaran dan kesetiaan. “Hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan” berarti meminta pancaran anugerah dan karunia dari kemurahan wujud-Nya.
“Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah” karena keagungan perintahMu. “Hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan” melalui kesempurnaan anugerah dan karunia-Mu.
“Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah” muncul dari jalan pengkhidmatan yang wajib. “Hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan” muncul dari jalan aspirasi atau cita–cita.
Manakala sang hamba berkata, “Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah,” Zat Mahabenar berkata, “Terima saja segala apa yang dibawanya” Manakala sang hamba berkata, “Hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan.” Dia berkata, “Berikan apa yang diinginkannya. (Murata : 107).

Kesimpulannya:

Dalam berhubungan dengan Alam (Makhluk) Allah mengendalikan dan mengontrol kosmos dalam dua cara dasar, sesuai dengan dua macam hubungan dasar: Ketakterbandingan dan keserupaan. Hubungan pertama (ketakberbandingan)  berkaitan dengan nama-nama keagungan dan kekerasan, sementara hubungan kedua (keserupaan) bertalian dengan nama-nama keindahan dan kelembutan. Ditilik dari sudut pandangan ini, Allah adalah ‘yang’ dan sekaligus ‘ying’.

Dalam Diri Allah, kita bisa melihat sebagai keterkaguman (takberbanding) dan keakraban (cinta dan dekat, menyerupai). Yang awal adalah ‘yang’, kemurkaan, kekerasan, keadilan, keagungan, kebesaran, kehebatan, kemuliaan. Ini semua melahirkan keterkaguman. Menyebabkan sikap hati-hati, takut salah, dan melakukan segala tata krama kerajaan, semua sopan-santun.

Sementara yang kedua adalah ‘ying’. Kelapangan, kelembutan, menimbulkan keberanian mengatakan sesuatu yang kita inginkan atau kelapangan yang berani. Kadang-kadang tanpa dipahami dengan baik ini dianggap antinomianisme (lepas dari syariat). Ucapan-ucapan al Hallaj (ana al haq) juga Abu Yazid dan lainnya, masuk kategori ini.

Islam dan diterima secara umum lebih mengedepankan sisi ‘yang’, raja, syariat yang lebih aman ditempuh oleh masyarakat secara umum, tetapi dalam perspektif tertentu diizinkan meraih keakraban-keakraban ini. Menarik ucapan ulama besar, filosof dan irfan, juga penulis kitab tafsir yang terkenal, yang mengatakan, intinya; Jalan spiritual dan tassawuf/irfan tidak perlu menggunakan cara-cara tertentu (tariqat) yang kadang meresahkan dan menyimpang.

Tasawuf bersangkut dengan rahasia, melihat, visi. Maka penjagaan rahasia, hasil dari penglihatan-penglihatan adalah penting. Tidak mengumbar pada khalayak umum, sebab akan merepotkan pada yang lain. Nabi Musa as pun tidak tahan dengan perilaku Khaidir yang nyentrik.

Wallahu a’lam bil al Shawab
Muhammad Alwi
Psikolog, Konsultan Pendidikan, Peminat studi Islam, Psikologi, filsafat dan pendidikan.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s