Masalah “Hati”

Ilmuwan IslamSalah satu hal yang terpenting dalam pengelolaan diri atau Makrifah adalah pengetahuan tentang hati (qalb). Didalam hadist yang cukup terkenal masalah hati disebutkan Nabi berkata, “Di dalam badan terdapat segumpal daging: jika ia baik, seluruh badan akan baik, dan jika ia rusak, seluruh badan akan rusak. Sesungguhnya, itulah hati”. Didalam Al Qur’an, tentang hati juga disebutkan, “Hanya dalam ingatan pada Allah hati menjadi damai, tenang (13: 28)._______________________
Dalam salah satu pendapat, Ada yang mengartikan bahwa segumpal hati itu dengan segumpal darah, dan segumpal darah disana dimaknai sebagai “Jantung”. Mengapa demikian? Mereka memberikan argumentasi, sebab secara fisik, maka deteksi awal dari seluruh tubuh adalah jantung. Jika detak jantung normal, maka secara umum tubuh dianggap sehat/normal, demikian sebaliknya. 
_________________

Makna Hati (qalb) yang disebutkan dalam al Quran memiliki berbagai arti diantaranya adalah; membalik, kembali, pergi maju mundur, berubah, naik-turun, mengalami perubahan. Intinya adalah mengalihkan, membalik, atau mengubah.

Banyak dikatakan bahwa Hati adalah inti kemanusiaan manusia dan kepribadian manusia. Sebab disanalah berperan perubahan-perubahan dalam diri. Didalam AlQuran dikatakan; “Tidak ada celanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika hatimu menyengajanya” (QS 33: 5). “Tuhan tidak akan menghukummu karena sumpah yang tidak disengaja, tetapi Tuhan akan menghukummu karena sumpah yang disengaja oleh hatimu.” (QS 2: 225; bandingkan dengan (QS 2: 118, 8: 70). Sebuah hadis menyatakan bahwa “Tuhan tidak melihat badanmu atau bentukmu, melainkan melihat ke dalam hatimu.

Hati adalah adalah tempat dimana Tuhan melihat kita, ia merupakan kunci menuju kemunafikan, watak yang paling buruk dalam pandangan Muslim. “Tuhan tahu apa yang ada dalam hatimu (3: 51).

1) Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diriNya. “Ketahuilah bahwa Tuhan membuat batasan antara manusia dan hatinya (8: 24). Jibril menurunkan wahyu kedalam hatimu (2: 97, 26: 192-194). Dalam hadist dikatakan, langit dan bumi tidak mampu menampung Allah, tetapi hati hambaku yang lembut dan sabar dengan iman yang benar mampu menampungNya.

2) Hati merupakan pusat pandangan, pemahaman dan ingatan (dzikir). “Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut,” (QS. An-Nazi’at 79: Ayat 8). “Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 46).

Memang hati mereka kami tutup  hingga mereka tidak dapat memahami (18: 57). “Apakah mereka tidak meremungkan isi Al-Quran? Atau adakah hati mereka yang terkunci?” (QS 47: 24).

“Sesungguhnya di situ terdapat peringatan bagi mereka yang memiliki hati, dan menggunakan pendengarannya, sebab mereka menyaksikannya sendiri” (QS 50: 37). “Janganlah kamu turutkan orang yang hatinya telah Kami alpakan dari mengingat Kami, orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja, dan keadaan orang itu sudah keterlaluan” (QS 18: 28). “Kalau ada peringatan baru datang kepada mereka dari Tuhan, mereka hanya pura-pura mendengarkan, hati mereka lalai” (QS 21: 2).

“Sesungguhnya telah Kami sediakan untuk penghuni neraka itu banyak jin dan mamusia; mereka mempuryai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami [fiqh] ayat-ayat Tuhan; mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat; mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang alpa”(QS 7: 179).

“Permusuhan di kalangan mereka telah memuncak. Kamu kira mereka kompak, namun hati mereka pecah-belah. Perpecahan itu timbul karena mereka tidak mempunyai akal” (59: 14).

3) Iman tumbuh didalam hati, sementara petunjuk mengalihkan hati kearah yang benar. Hati adalah pusat keraguan, penyangkalan, kekafiran dan penyelewengan.

Kamu belum beriman, hanya tunduk sebab iman belum meresap dalam hatimu ( 49: 14). Dan barangsiapa beriman kepada Tuhan, tentu dua menunjuk hatinya (64: 11). Juga (58: 22), (18: 13-14), (48: 4), (16: 22), mereka yang hatinya dipenuhi keraguan, sehingga dalam kwraguan itu meteka terombang ambing (9: 45).

4) Melalui hati, al Quran dapat dipahami dan keesaan dapat diyakini.

5) Kebaikan-kebaikan seperti kesucian, kesalehan, ketegaran, kelembutan, keluasan, perdamaian, cinta dan tobat ada didalam hati. (5: 41), juga (26: 87-89), (49: 3), dll.

6) Penyakit sifat yang paling negatif ada dalam hati. Sebagaimana dikemukakan Al-Quran (misalnya, QS 2: 10, 8: 49, 9: 125, 47: 20, 47: 29, 74: 31). “Apakah hal itu karena dalam hati mereka ada penyakit? Atau apakah mereka merasa takut kalau-kalau Tuhan tidak berlaku adil terhadap mereka?” (QS 24: 50). “Ketika orang-orang munafik, dan mereka yang dalam hatinya ada penyakit.” (QS 33: 12; bandingkan dengan QS 33: 60). “Dan janganlah menyembunyikan kesaksian, barang siapa yang menyembunyikan kesaksiannya berarti sudah berdosalah hatinya” (QS 2: 283). Sifat-sifat negatif lainnya termasuk kemarahan dan kegalakan. “Dan Dia akan menghapuskan kemarahan di dalam hati mereka; dan Tuhan berpaling pada siapa saja yang Dia kehendaki” (QS 9: 15). “Ketika dalam hati orang-orang kafir itu timbul perasaan sentimen, yaitu perasaan sentimen jahiliyah (48: 26).

7. Hati semestinya lembut dan menerima petunjuk ilahi, cahaya dan cinta. Terlihat disini baik dalam Al Qur’an dan hadist, bahwa hati tidak mempunyai perangai yang tetap. Tetapi ada sifat-sifat normatif yang semestinya dimiliki hati bila tidak dia akan cenderung menyimpang, sesat dan sengsara. Ya Muqallibal qulub.

Ruh dan Jiwa

Hati adalah bentuk ilahi yang ada dalam diri kita yang harus dibawa dari potensialitasnya menuju aktualisasi. Melalui kesempurnaannya akan mewujudkan keseimbangan dan kesempurnaan “Dua Tangan Tuhan”.

Hati terperangkap oleh antara dua sisi (cahaya dan kegelapan, Ruh dan badan). Sisi mana yang dominan itulah penentu sampai dimana manusia-manusia itu. Hati itu lokus ingatan pada Tuhan dan tempat bimbingan yang muncul untuk mengubah individu. (7: 201), (2: 63), (50: 37). Pertarungan Hati antara Ruh dan Jiwa dijelaskan oleh Al Quran, (12: 53, Jiwa yang menguasai kehahatan), (91: 7-8), (75: 2), (89: 27-28, jiwa yang tenang).

Hubungan: Hati, Ruh dan  Jiwa

Dalam risalah Abu Ibrahim Mustamli Bukhari diringkaskan sebagai berikut; Ruh adalah Matahari, Jiwa seperi bumi, hati seperti lingkaran langit. Berubah-ubahnya hati adalah seperti berubah-ubahnya lingkaran langit. Kadang-kadang ia membawa matahari ke bawah dunia dan membuat dunia gelap, dan kadang-kadang Ia membawa dunia ke bawah matahari dan membuatnya bercahaya.

Kadang-kadang hati membawa ruh ke bawah jiwa, meskipun ruh itu sendiri tetap berada di tempatnya, sebagaimana piringan matahari tetap berada di tempatnya. Namun, ruh menjadi terselubung oleh jiwa, sebagaimana matahari terselubung oleh bumi.

la tidak kehilangan kemampuan untuk memberi cahaya. Dalam satu hal, kegelapan malam muncul, dalam hal lain yang muncul adalah kegelapan dari perbuatan yang salah.

Kadang-kadang lingkaran itu membawa matahari. Selubung bumi menghilang dan dunia menjadi bercahaya. Dalam satu hal kecemerlangan siang hari muncul, dalam hal lain yang muncul adalah kecemerlangan dari kepatuhan [pada hukum wahyu]. (Murata, 385, Bukhari, Syarh ta’aruf, II,   167 -168).

4 Tirai Hati dan Penyempurnaannya.

Rasyid al Din Maybudi (Yang di kutip Murata, hal 386) mengatakan;  Hati manusia mempunyai empat tirai: Yang pertama adalah dada [shadr], tempat bersemayamnya perjanjian penyerahan diri [islâm], menurut firman Tuhan, “Apakah orang yang dadanya telah dibukakan oleh Tuhan untuk menerima Islam..?” [QS 39: 22]. Tirai kedua adalah hati [galb], tempat bersemayamnya cahaya iman, menurut firman-Nya, “Dia telah menanamkan iman dalam hati mereka” [QS 58: 22]. Tirai ketiga adalah hati batiniah (fu’âd), tempat penyaksian yang Nyata, sesuai dengan firman-Nya, “Apa yang dilihatnya itu, hatinya tidak mengingkarinya” [QS 53: 11]. Tirai keempat adalah hati yang paling dalam [syaghâf], tempat di mana orang meletakkan hamparan cinta, sesuai dengan firman-Nya, “Cinta kepadanya telah menusuk hatinya yang paling dalam” [QS 12: 30].

1) Awalnya adalah penyucian dada, dengan Islam dan ajaran-ajarannya. Lalu 2) Dengan hatinya menjadi suci dengan berjalan dalam pemantauan (wara). 3) Hati Batiniah, menjauh dari ikatan-ikatan dan benda-benda ciptaan (“agar dia mengikuti cahaya dari Tuhannya, 39: 22). Kemudian 4) Hati yang paling dalam, Kebahagiaan yang diperoleh menjadi berbuah, membuka mata penuh suka cita, disini manusia sudah mampu melangkah menuju fana.

Abdullah Anshari mengatakan; “Aku melempar jauh-jauh dua dunia demi cinta, dan aku melempar cinta demi yang aku cintai, kini aku tidak berani mengatakan “Aku adalah aku, pun tidak berani mengatakan Dia.

Najm Al-Dîn Kubrâ membedakan antara Jiwa, hati, dan ruh sebagai berikut: Jiwa, hati, dan ruh mengungkapkan satu hal. Namun, jiwa digunakan ketika hal itu men jadi cemar dan keras, hati ketika ia menjadi tersucikan, dan ruh ketika ia mencapai kedekatan dengan Tuhan. Kadang-kadang para Sufi membedakan realitas-realitas itu dan mengatakan bahwa hati ada di dalam jiwa, ruh ada di dalam hati, dan misteri yang terdalam ada di dalam ruh.

Kubrâ dalam fawá’ih Al-Jamâl, mengatakan; Hati dikatakan Hati karena ia berubah-uubah dari satu keadaan kekeadaan lainnya, seperti air yang mengambil warna dari wadahnya. Demikian pula, ia dinamakan hati sebab ia adalah inti eksistensi dan makna. Hati itu halus dan menerima cerminan benda-benda dan makna-makna yang mengelilinginya. Maka warna benda yang menghadapi realitas lembut mengambil bentuk di dalamnya, sebagaimana bentuk-bentuk dipantulkan dalam sebuah cermin atau air bersih. (Murata, 388).

Hati menurut Madzab Ibn Arabi.

Tuhan tidak dapat diperbandingkan tetapi sekaligus hadir. Manusia memiliki aqal yang akar katanya adalah “menyempitkan” dan “membatasi”. Dalam al Istilahat al shuffiyah, Abd al Razaq Kasyani mengatakan (Murata, 389). Hati adalah substansi yang bercahaya dan terpisah antara Ruh dan Jiwa. Melalui hatilah kemanusiaan yang sejati (al insaniyyah) terwujud (tahaqquq). Para Filosof mengacu padanya sebagai “jiwa rasional”. Ruh adalah dimensi batinnya, dan jiwa hewan adalah tunggangannya serta dimensi lahiriyah, ditengah antara ia dan badan. Maka Al Quran membandingkan hati dengan sebuah kaca dan bintang yang bercahaya, sementara ruh dibandingkan dengan sebuah lampu. Inilah firmanNya,

“Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. An-Nur 24: Ayat 35).

Pohon itu adalah jiwa, relung itu adalah badan. Hati adalah realitas perantara dalam eksistensi dan dalam tingkat-tingkat keturunan, seperti lembaran yang terjaga dalam kosmos”.

Menarik tafsiran al Kasyani tentang ayat;  “Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 17).

Dan engkau lihat matahari, yaitu ruh. ketika terbit, yaitu naik dengan jalan terpisah dari bungkusan-bungkusan kejasmaniahan. Lalu menjadi terwujud dari cakrawalanya sendiri, condong dan berpaling melalui cintanya dari Gua mereka, badan, ke sebelah kanan, arah Dunia Kesucian. Inilah arah dari amalan-amalan kebaikan yang penuh cinta perbuatan-perbuatan baik, kebajikan, amalan-amalan baik, kepatuhan. Itu adalah jalan yang baik, sebab mereka adalah “Orang-orang di sisi Kanan”.

Dan bila terbenam, yaitu ketika ruh tenggelam ke dalam badan dan menjadi terselubung olehnya, ia menjadi tersembunyi oleh kegelapan badan dan kutukan-kutukan. Keterputusan dan perceraian Para Penghuni Gua membuat cahaya ruh mati, sebab mereka condong ke sebelah kiri, ke arah jiwa. Inilah jalan dari amalan-amalan buruk, sehingga Orang-orang itu menjadi terserap dalam tindak ketidakpatuhan, amalan-amalan buruk. kejahatan-kejahatan, sifat-sifat moral yang jelek, dan jalan orang yang tak beriman, yaitu “Orang-orang di sisi Kiri.” Sedang mereka berada di tempat yang cukup luas dalam gua itu.

Dengan kata lain, mereka berada di lapangan permainan yang luas dari badan mereka, yang merupakan kedudukan jiwa dan Fitrah, Sebab di dalam badan ada tempat yang cukup luas di mana cahaya ruh tidak mencapai mereka.

Hendaklah kamu ketahui bahwa wajah hati yang dipalingkan pada ruh mendapatkan cahaya dari cahaya ruh dan disebut “akal.” la mendorong menuju kebaikan dan merupakan tempat ke mana ilham malaikat dapat masuk. Wajah hati yang dipalingkan ke arah jiwa itu menjadi gelap melalui kegelapan dari sifat-sifatnya. Itu dinamakan “dada.” Itulah tempat

Setan berbisik, seperti difirmankan Tuhan: “Dia yang berbisik-bisik di dada orang-orang” [QS 114: 5].

Ketika ruh bergerak dan hati berpaling kepadanya melalui wajah ke arah ruh, hati menjadi bersinar dan kuat melalui indra akal, yang mendorong dan menyebabkan kerinduan kepada kesempurnaan. Maka ia cenderung pada kebaikan dan kepatuhan. Namun ketika jiwa itu digerakkan dan hati berpaling kepadanya melalui wajah ke arah jiwa, ia menjadi gelap dan terselubung dari cahaya ruh. Akal

menjadi gelap dan cenderung pada kejahatan dan ketidakpatuhan. Dalam keadaan ini malaikat mencari jalan masuk melalui ilham dan setan melalui bisikan. (Kasyani,Ta’wilat, dalam Murata, 391-392).

Al Quran dapat dimaknai sebagai ” dengan makna sebagai, “sesuatu yang menyatukan segala sesuatu dan menggabungkan mereka menjadi suatu kesatuan yang selaras”. Sementara “al furqan” bermakna ” sesuatu yang melihat dan membedakan”. Atas dasar itu akan juga punya dua fungsi yaitu ‘sintesis’ dan ‘analisis’.

Teks “Barang siapa mengenal jiwanya sendiri pasti mengenal Tuhannya”. Pengetahuan akan Tuhan tidak akan sempurna demikian juga pengetahuan akan jiwa kita. Jiwa dikatakan tidak bisa didefinisakan secara lengkap, sebab dia selalu berubah-ubah. Ali berkata; “Aku dan jiwaku adalah seperti seorang penggembala dan domba2nya. Setiap kali aku mengumpulkan mereka dari sari sisi, mereka berlarian kearah lain (Murata, hal 398)

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s