Seri Tulisan Pendidikan Positif (10)

“Tren Kemasan” Dalam Pendidikan (Antara “Idealisme” dan “Realitas Proses”).
Ini adalah tulisan lama yang ditampilkan lagi sebagai bahan renungan ulang.

Foto Rekreasi JKT OkeKalau kita melihat Tujuan Pendidikan, maka Pendidikan bertujuan untuk mengantarkan manusia menuju tujuan penciptaanNYA. Menjadi khalifah dibumi dan untuk beribadah kepadanya. Atau dalam bahasa UNESCO, pendidikan mestinya memampukan pebelajar (siswa, murid) untuk memahami learning to Know, learning to Do, Learning to Live Together dan Learning to Be. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Meninggalkan komentar

Seri Tulisan Pendidikan Positif (6 – 2)

10 Tokoh Tanpa Ijazah

10 Tokoh Hebat Indonesia tanpa Ijazah

Sekolah, Ilmu, Kaya, Sukses dan Bahagia?

Gambar diatas beberapa contoh orang-orang yang sukses tanpa memiliki ijazah formal dari lembaga pendidikan tinggi.  Demikian juga Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, hanya tamat SMP, namun sukses sebagai pengusaha, kaya raya, dan kini menjadi petinggi negara, menyisihkan orang-orang “pintar”.

Pertanyaannya dan kesimpulan liarnya adalah “tak perlu lagi sekolah tinggi, toh tamatan SMP saja bisa jadi menteri”, benarkah seperti itu? Sebenarnya kita tak perlu kaget. Presiden Seoharto hanya tamatan SD, Megawati bukan sarjana, hanya setingkat SMA. Gus Dur pun tak pernah menamatkan sekolah. Jadi, bagaimana sebenarnya arti penting sekolah itu?
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Mengapa : Dari 12 Profesi, Guru/Pendidik Adalah Profesi Yang Paling Tidak Membahagiakan?

Beyond happinessSebuah majalah berjudul Men’s Health memasang iklan pada situs webnya: “kami sedang mencari orang yang hidup sempurna tetapi tidak bahagia. Jika anda mempunyai pekerjaan besar, rumah besar dengan perlengkapan mewah, tapi anda merasa tidak bahagia, dan sewaktu-waktu malah menderita, kami ingin mendengarnya dari anda”.
Apa yang terjadi? ternyata majalah tersebut banyak sekali menerima respon yang cocok dengan iklan tersebut.

Fenomena diatas saat ini dianggap sebagai sesuatu yang normal. Pearshall (2002) menyebut fenomena tersebut sebagai Dysthymia yaitu perasaan sedih yang kronis dan hilangnya energi kehidupan di tengah-tengah kehidupan sukses yang tampak bahagia. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , | Meninggalkan komentar

Seri Tulisan Pendidikan Positif (9)

GEN-KECERDASAN DAN MISTERI KEHIDUPAN KITA.

Gen DNA dan Kromosom

Gen DNA dan Kromosom

Pada suatu hari, beberapa teman membicarakan tentang makna dan hakekat kecerdasan kepada saya. Mereka bertanya, Pertanyaan itu simple walau cukup menggelitik. Pertanyaan itu adalah; apakah hakekat kecerdasan? Apakah pengaruh gen pada kecerdasan dan apakah kepribadian atau temperamen itu diturunkan (heriditas)? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , | Meninggalkan komentar

Seri Tulisan Pendidikan Positif (7)

Fisiologi Otak yang Mengagumkan

Otak FisiologiOtak manusia sudah dapat dijelajahi kedalamannya berkat prosedur-prosedur non-invasif seperti Citra Resonansi Magnetic (MRI) dan Topografi Emisi-Positron. Lewat penelitian alat-alat itu, otak dapat dibagi menjadi tiga bagian penting yaitu;

  1. Batang Otak (Otak Reptile).

Dinamanakan otok Reptile, karena otak ini ditemukan di jenis-jenis hewan-hewan yang lebih rendah. Fungsi utama bagian ini diantaranya adalah; Mengontrol fungsi dasar pernafasan, detak jantung dan instink-instink primitif (lawan atau lari), juga mengontrol bagian teritori kita. Marah, terancam, tidak nyaman dan lain sebagainya. Bila kita menghadapi musuh atau sesuatu yang menakutkan, kita bereaksi untuk lawan atau lari. Ini mirip dengan apa yang dimiliki hewan. Tetapi manusia karena perkembangan bagian otak lainnya. Mekanisme lawan dan lari ini di kurangi atau dimodifikasi dengan berbagai cara lain. Misal kalau kita jengkel, maka kita tidak melawan tetapi bisa berpura-pura atau lainnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Seri Tulisan Pendidikan Positif (6 – 1)

Apakah Sukses Sekolah = Cerdas

Book Psycologi CognitivePada tahun 1904, mentri pendidikan Prancis meminta psikolog Prancis Alfred Binet, dan sekelompok psikolog mengembangkan suatu alat yang dapat menentukan tingkat suatu keberhasilan anak disekolah (khususnya SD saat itu). Tujuannya adalah untuk meramalkan mana yang berkebutuhan khusus (pembinaan khusus), mana yang akan ‘sukses’, sehingga layak untuk diberi kesempatan.

Test yang dibuat Binet akhirnya menjadi standarisasi untuk menentukan anak yang ‘akan sukses’ dan ‘tidak akan sukses’ dalam sekolah. Bahkan akhirnya test ini menjadi stempel, labelisasi anak ‘pandai’ dan ‘tidak pandai’. Anak yang layak diterima dan tidak diterima, dalam kehidupan, khususnya dalam seleksi masuk sekolah, pekerjaan dan jabatan-jabatan yang akan dipegang dalam suatu industri, perusahaan atau lainnya. (Sebelum menerukan membaca ada baiknya anda membaca ini : Sekolah, Ilmu, Kaya, Sukses dan Bahagia?  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , | Meninggalkan komentar

Seri Tulisan Pendidikan Positif (5)

5 cara mudah untuk menemukan Bakat

Foto Rekreasi JKT OkeAda 5 cara mudah untuk menemukan bakat tersembunyi kita yaitu;
1. Dengarkan kritikan dan pujian dari orang lain – Dalam salah satu pendeteksian kecerdasan Multiple intelligence, Thomas Amstrong mengatakan. Lihatlah kenakalan-kenakalan anak-anak kita. jangan-jangan itu kecendrungan kecerdasannya. Misalnya anak suka membawa kucing ke kelas, dirumah (Kecerdasan Naturalis), coret-coret di dinding (Visual), merusak barang-barang, membongkar mainan (Kinestetik) dst. Kalau kita sudah dewasa, kita lihat pujian, pembicaraan orang lain tentang kelebihan-kelebihan kita. sebab terkadang, “Gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, kuman di seberang lautan kelihatan”. Kadang orang lain lebih baik mengetahui diri kita daripada diri kita sendiri. Mungkin teman kita atau siapa lainnya mengatakan, kita berbakat, menguasai bidang tertentu, hanya kita mengabaikannya (tidak menganggapnya serius). Konsep ini memiliki kelebihan dibandingkan kuesioner (isian oleh kita sendiri, walau itu juga baik).  Sekarang saatnya kita mulai memasang telinga mulai mendengarkan untuk diri kita, kesuksesan kita. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , , | Meninggalkan komentar