Filsafat Bahasa: Kata & Pandangan Dunia Bahasa Al Qur’an (Bag 1)

Foto AnaSemantik adalah ilmu yang berhubungan dengan fenomena makna dalam pengertian yang lebih luas dari kata. Semantik menjadi kajian tentang filsafat tersendiri. Semantik secara sederhana adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual Weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu, tidak hanya sebagai alat bicara dan berpikir, tetapi yang lebih penting lagi, pengkonsepsian dan penafsiran dunia yang melingkupinya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Al Qur’an Bicara Jalan-jalan Spiritual (2)

ISLAM KECIL DAN BESAR

Foto AnaIslam berarti kepasrahan, dan kepasrahan berarti keyakinan (Imam Ali bin Abi Thalib). “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 65). Kepasrahan, tidak keberatan, tidak ada rasa enggan, ‘mendebat’ terhadap ketentuan Rasul (yang itu adalah ketentuan Allah), adalah bentuk Islam dan Iman yang kokoh. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Al Qur’an Bicara Jalan-Jalan Spiritual (1)

Pengantar Para Arifini?

Foto Ana

Muhammad Alwi

Pada dasarnya manusia itu berbeda-beda, baik tabiat, karakter dan lain sebagainya. Setiap manusia akan melakukan sesuatu sesuai dengan kecenderungannya, kesenangannya, tabiat dan lainnya. “Katakanlah (Muhammad), Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 84). Ada manusia yang awam, khusus bahkan sangat khusus. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , , | Meninggalkan komentar

BASHIRA

Foto GoogleKita tidak pernah pasti apa yang kita lakukan, benar atau tidak. Tuhanpun mengingatkan pada kita, “Yang kau anggap baik belum tentu itu baik buat-mu dan sebaliknya”. Sangat merugi apabila mereka mengganggap melakukan perilaku baik, padahal tidak, dan setelah dihari perhitungan terlihat semuanya banyak minus-nya.

Meningkatkan Bashira itu sangat-sangat penting sebab Mata-Batin (Bashira), mampu menembus yang caver, lipstik, kamuflase, retorika dan kemunafikan. Bashira mengetahui atau melihat tidak hanya sekadar fenomena, tetapi mampu ke inti, hakekat, neomena. Dunia sudah sedemikian ambigu, bias, kacau, after the fact, hoax, post truth dst. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , | Meninggalkan komentar

Uji Coba Pendidikan Daring “Covid 19”?

Foto GooglePendidikan adalah upaya sadar untuk mencapai tujuan tertentu. Karenanya maka tujuan dalam pendidikan mesti dicanangkan terlebih dahulu sebelum melihat hal-hal lainnya. Apa tujuan pendidikan nasional kita? Apa tujuan pendidikan sekolah kita? Tujuan pendidikan nasional dicantumkan dalam UU Sisdiknas. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Filosofi dasar pendidikan nasional adalah sebagai berikut, pertama dicanangkan dahulu apa itu manusia-Indonesia? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Relasi Kuasa dan Berfikir Kefilsafatan

Foto GoogleApa itu relasi kuasa? Kalau kita membicarakan tentang kekuasaan, maka dalam bayangan kita selalu tampak hubungan dua bagian, subjek-objek, yang menguasai dan dikuasii. Negara, Raja, Bos, Majikan dan lain sebagainya memiliki kuasa atau menguasai rakyatnya, masyarakatnya, pegawainya dan seterusnya. Kuasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) adalah kemampuan atau kesanggupan (untuk berbuat sesuatu); kekuatan; wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan (memerintah, mewakili, mengurus, dan sebagainya) sesuatu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Filsafat “Sengketa”, Pak “Ojol” dan Covid19

Foto Seminar MI OkeMerebaknya virus Covid19 membuat hampir seluruh dunia sibuk mempersiapkan diri, mengawasi diri serta melakukan tindakan-tindakan yang dianggap perlu. Cina dimana tempat awal merebaknya virus ini sudah berangsung-angsur memulih dengan kebijakn yang super ketat dan cepat. Mungkin kepemimpinan yang efektif dan sedikit-banyak otoriter cukup membantu penyelesaian ini. Berbeda dengan kasus di Italia, dimana negara itu, sampai sekarang jumlah yang meninggal melebihi Cina, dan tertinggi didunia. Dahlan Iskan, wartawan senir Jawa Pos, bekas Mentri, pernah menulis, dengan mengatakan, “Lock Down, Opo Tumon”. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kepala Sekolah dan Kemerdekaan Pendidikan dan Belajar

Merdeka belajarBeberapa waktu yang lalu mentri pendidikan kita menginisiasi istilah MERDEKA BELAJAR. Apa itu merdeka belajar? Dikatakan agar guru, murid, orang tua dan stakeholder lainnya melakukan proses belajar-mengajar dan pendidikan dengan bahagia. Ada istilah merdeka yang didalamnya menyangkut kebebasan dalam mengimprovisasi proses belajar-mengajar dan pendidikan disekolah. Merdeka Belajar pasti didalamnya juga Merdeka dalam lembaga pendidikan. Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan disini tentang hal diatas yaitu  1) Apa itu Kemerdekaan Belajar?  2) Apa itu pendidikan yang membahagiaakan? (untuk yang terakhir ini pernah saya tulis secara cukup detail dan lengkap disini, termasuk dua buku yang saya terbitkan):

https://pendidikanpositif.com/2014/04/30/anak-cerdas-bahagia-di-sekolah-yang-baik-di-sekolah-positif/ Juga
https://pendidikanpositif.com/2017/09/26/pendidikan-yang-membahagiaan/ Juga
https://pendidikanpositif.com/2018/11/24/sekolah-ilmu-kaya-sukses-dan-bahagia/ Juga
https://pendidikanpositif.com/2018/11/21/saya-berfikir-tahu-maka-saya-berbahagia/ dll

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Kepemimpinan Fungsional dan Kepribadian Kelompok

Foto GoogleDalam sebuah organisasi, maka pasti ada orang-orang atau individu, kelompok dan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai. Karenanya dalam organisasi atau kelompok, walaupun tiap-tiap kelompok/organisasi akan berbeda-beda isinya, tetapi mereka pasti memiliki 3 kebutuhan yaitu; 1) Kebutuhan merampungkan tugas bersama, 2) kebutuhan mempertahankan kesatuan sosial yang kompak (disini biasa disebut kebutuhan pemeliharaan tim) dan 3) Kebutuhan Individu-individu. Katiga ini saling berinteraksi, bila kebutuhan individu terpuaskan, maka mereka akan termotivasi, dan kemungkinan berhubungan dengan kemampuan merampungkan tugas, dan semangat untuk kesatuan team. Bila tugas-tugas tercapai, team berprestasi itu akan mengangkat hargat individu-individu dan motivasi untuk mempertahankan team. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Subjektivitas, Objektivitas dan Subjektivisme

Menengok Pertempuran Ideologi Sunnah dan Syiah

Perang Dinasti Seljuk TurkiMenarik melihat pertanyaan ahli ilmu sosial Robert K Merton, dia menanyakan, mengapa Inggris pada abad 17 menjadi negara yang sangat subur bagi pertumbuhan dan perkembangan Ilmu pengetahuan? Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan dalam negeri Islam, mengapa pada saat Dinasti Buwaihi (934–1055 M), yang hidup di pemerintahan Abbasiyah, hiduplah manusia-manusia seperti al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), al-Farghani, Abdurrahman al-Shufi (w. 986 M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-‘Ala al-Ma’arri (973-1057 M), dan kelompok Ikhwan al-Shafa, dll? Kata Merton, Inggris pada masa itu Inggris cocok bagi terbentuknya ETOS, yang terdiri dari 4 prinsip yaitu Komunalitas, Universalisme, Ketakpamrihan dan skeptisme teratur. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama, Psikologi dan Pendidikan | Tag , , | Meninggalkan komentar